Ide itu bernama Recoffeery

Sore itu seperti biasa, warung kopi sudah menjadi lawatan kami, menyempil dalam rutinitas yang acapkali berkutat dengan kecamuk pikiran yang menjadi penyebab hubungan kami menjadi lebih erat dengan gelas-gelas kafein.

Setelah saya dan kawan saya bertemu di warung kopi, maka sudah dipastikan mulut-mulut kami akan penuh busa karena percakapan yang tak henti-hentinya membicarakan segala sesuatu yang ada di dalam kepala kami masing-masing.

Jikalau Seno Gumira -bertahun-tahun kebelakang sebelum ramai menyeruak kedai dan warung kopi seperti sekarang-  beliau menyebut kopi bukan hanya sekedar kafein, ia telah berubah menjadi makna, maka lumrah, narasi-narasi terhadap kopi hingga saat ini semakin ramai, seramai tumbuhnya kedai-kedai kopi di setiap kota, khususnya Kota yang saat ini kutinggali dan kuberaki, Bandung.

Tumbuhnya jumlah kedai kopi di kota ini, tentunya membuat bahagia, sudah jelas, semakin banyak kedai kopi, akan memudahkan saya ketika ingin ngopi, bayangkan kalo jumlah kedai kopi di Bandung kurang dari sepuluh, sudah pasti akan antri, antrinya dari jam 3 dini hari, kita mau ngopi jam 10 pagi, antrinya harus jam 3 dini hari, itupun harus berebutan dengan jasa titip minum kopi, eeeh ternyata kedai kopi itu pun pake jasa Endorse Syahrini, Bella, Keluarga nya Raffi Ahmad atau siapapun itu yang sering keluar masuk TV. Untunglah itu tidak terjadi di sini.

Kembali lagi, tumbuhnya jumlah kedai kopi, dan semakin banyaknya kopi yang muncul dari daerah-daerah (khususnya) di Jawa Barat, tentunya berpotensi akan perkembangan usaha “dagang kopi”. Namun itu pula yang setidaknya mengganggu pikiran saya hingga saat ini, saya selalu diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab hingga sekarang, seperti :

“Saya sering banget ngopi, tapi nanti ampas kopinya dibuang kemana yah?”

“Para pegiat kedai kopi, membuang ampasnya kemana yah?”

“Saya yakin ada tukang seduh atau barista yang sudah aware dengan pemanfaatan ampas kopi, tapi apakah masih ada yang belum aware?”

“Kalo banyak kedai kopi, berarti berapa banyak timbulan ampas kopi dikalikan jumlah kedai kopi di Bandung ini ya?”

 

 

Dan pertanyaan lainnya…. Hingga akhirnya, saya pun bertemu dengan dua orang kawan sambil menyeruput kopi dan kebetulan, iseng saja saya membicarakan pertanyaan-pertanyaan tadi, sehingga dari hal tersebut terbersit sebuah inisiatif untuk mengumpulkan ampas kopi dari kedai-kedai kopi di bandung, kemudian mencoba mengolah ampas tersebut menjadi sebuah pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh petani.

Ya, kemudian ide ini berniat untuk kami realisasikan menggunakan nama Recoffeery.

coffee-garden

Foto ini diambil dari http://earth911.com/home/making-your-garden-beautiful-with-used-coffee-grounds/ dan tidak ada kaitannya dengan proses komersialisasi sebuah produk yang menghasilkan profit. Silahkan baca link tersebut untuk referensi tentang pemanfaatan ampas kopi

Recoffeery ini sebuah kata yang saya ambil dari recovery, sebenernya kata tersebut muncul pada saat saya membaca sebuah paper dari Herman Dally, beliau menyinggung tentang sebuah konsep Resources Recovery, sehingga dari sana saya terfikir untuk mengganti Recovery tersebut menjadi Recoffeery.

Recoffeery sendiri merupakan sebuah inisiatif lokal yang dibentuk secara kolektif dan bergerak untuk pemanfaatan ampas kopi menjadi bernilai guna kembali (salah satu yang akan kami lakukan adalah menjadikannya sebagai pupuk organik yang nantinya akan kami distribusikan kepada petani-petani binaan kawan-kawan kami)

Tujuan kami sederhana, kami ingin berkolaborasi dengan para pemilik kedai kopi atau coffee shop untuk memanfaatkan ampas kopi dari kedainya masing-masing, kami juga ingin agar ampas kopi tidak terbuang dan berkontribusi terhadap timbulan sampah organik di Kota Bandung, kami juga ingin sama-sama sharing tentang pemanfaatan pupuk organik dari ampas kopi kepada para petani. Untuk hal-hal tersebut, tentunya kami sadar, serangkaian kegiatan yang harus kami lakukan beberapa diantaranya, yaitu berkeliling ke kedai-kedai kopi di bandung, untuk sharing tentang ide ini, kemudian menguji efektifitas pupuk dari ampas kopi terhadap pertumbuhan tanaman, dan tentunya minum kopi itu sendiri.

Diantara geliat pertumbuhan jumlah kedai kopi dan semakin pekat dan bermaknanya kebiasaan minum kopi bagi kita, kami ingin dari cangkir-cangkir tersebut hadir sebuah konsep sederhana tentang pemanfaatan kembali sumber daya secara berkelanjutan, inginnya seperti begini; “A Cup of Sustainability”

( Oh iya, ide ini sudah mulai diimplementasikan, dimulai dengan pemetaan lahan di kebun kopi milik seorang kawan, kemudian studi awal tentang timbulan ampas kopi pada beberapa kedai kopi di Bandung, sambil sedikit-sedikit mengkampanyekan ide ini kepada kawan-kawan. Untuk kawan-kawan yang ingin berkolaborasi terkait apapun itu, silahkan, tak usah ragu, mari bertegur sapa melalui surel kami di recoffeery.bdg@gmail.com )

Sudah ngopi ?

 

 

Advertisements

One comment

  1. phadliharahap · September 26

    ide yang hebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s