Menilik ihwal Konsumerisme dalam film Confession of Shopaholic

Scene 1

Scene tersebut menjadi pembuka dalam film ini, metafora yang keluar dari ucapannya membandingkan perasaan ketika melihat sebuah store yang membuat perasaannya meleleh seperti bertemu dengan seseorang dengan senyumnya yang manis.

Ya, film yang dirilis pada tahun 2009 berjudul Confession of Shopaholic, merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel yang ditulis oleh Shopie Kinsella dengan judul yang sama. Film ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Rebecca Bloomwood, ia bekerja sebagai seorang wartawan, namun sebetulnya ia memiliki ketertarikan untuk bekerja pada sebuah majalah fashion bernama “Alette”

Yang menarik dari film ini yaitu, pekatnya wacana-wacana akan kegiatan konsumtif dan kuatnya relasi antara Rebecca Bloomwood dengan adiksinya terhadap belanja dan kartu kredit, dan tulisan ini akan mencoba meniliki beberapa scene yang berhubungan dengan Konsumerisme dan tanda-tanda yang ada dalam film tersebut.

Scene 4

Dalam scene selanjutnya, Rebecca memperoleh kesempatan untuk melakukan wawancara kerja di Kantor Alette, dan ia pun tak sengaja melihat sebuah selendang hijau pada sebuah toko, tentunya tak pikir panjang, Rebecca pun masuk dan mengagumi keindahan selendang hijau tersebut, namun, ia masih teringat tentang cicilan kartu kredit yang masih belum ia lunasi, ia pun nyaris membatalkan keinginannya untuk membeli selendang tersebut, namun tiba-tiba mannequin tersebut mengajaknya berdialog dengan menyisipkan argumen-argumen dimana sebuah selendang hijau tersebut akan berpengaruh terhadap penampilannya ketika wawancara, dan meningkatkan keanggunannya sebagai seorang perempuan.

Setelah sampai di kantor Alette, ternyata posisi yang diincar oleh Rebecca sudah terisi oleh orang lain, namun resepsionis pun memberitahu bahwa di majalah successful saving magazine, sedang dilakukan wawancara juga, dan Rebecca pun berfikir jika majalah tersebut bisa menjadi batu loncatan baginya untuk kemudian bergabung dengan majalah Alette. Nyatanya, Successful saving magazine dan Alette adalah dua majalah yang berbeda, Alette adalah majalah fashion, sedangkan Sucessful saving magazine merupakan majalah keuangan.

Nasib kurang beruntung tidak hanya sampai di situ saja, setelah wawancara selesai dilakukan, dan hasilnya kurang memuaskan, Rebecca kemudian kembali ke kantornya dan mendapati informasi bahwa kantor tempat ia bekerja saat ini bangkrut, alhasil ia tidak memiliki pekerjaan dan menanggung hutang tagihan kartu kredit sebesar $16.000

Yang membuat film ini semakin menarik adalah, konflik seorang Rebecca dengan gairah belanjanya. Ia tetap berbelanja meskipun $16.000 menunggu untuk dibayar, ia tetap tergiur akan diskon meskipun sehari-harinya ia ditagih seorang penagih hutang. Kondisi tersebut tentunya mengingatkan saya kepada seseorang bernama Jean Baurdrillard.

 

Mengingat Budaya Konsumsi dari sudut pandang Marx 

Sebelumnya, jauh-jauh hari, Eyang Marx sudah membicarakan perihal budaya konsumsi, beliau berujar bahwa budaya konsumsi tersebut dilatarbelakangi oleh munculnya masa kapitalisme, dimana sebuah produksi dijalankan dan dimiliki oleh pribadi. Tujuannya adalah untuk meraih keuntungan besar, dan tentunya konsekuensi logisnya adalah dengan lebih memperbanyak  produksi, untuk lebih memperbanyak produksi maka dibutuhkan lebih banyak pekerja untuk proses produksi tersebut. Tahapan selanjutnya, untuk memperoleh keuntungan, maka hasil produksi tersebut harus dijual dan dipasarkan kepada masyarakat sebagai sebuah Komoditas. Dalam buku Lechte yang bisa dibaca di sini Marx menjelaskan bahwa komoditas hanya memiliki dua aspek, yaitu use value dan exchange value. Nilai guna atau Use Value, tidak lain merupakan kegunaan suatu objek dalam pemenuhan kebutuhan tertentu, sedangkan Nilai tukar atau Exchange Value, merupakan nilai tukar yang terkait dengan nilai produk tersebut di pasar atau objek yang bersangkutan.

Saya memandang Marx memang menekankan pentingnya produksi dalam ekonomu, namun hanya memandang komoditas dan objek dalam kegiatan transaksi jual beli saja, dan memberikan gambaran bahwa masyarakat membeli komoditas tersebut berdasarkan nilai guna saja.

 

Masyarakat Konsumerisme dari sudut pandang Jean Baudrillard

Berbeda dengan Marx, Jean Baurdillard memandang bahwa masyarakat tidak hanya memiliki use value dan exchange value saja. Tetapi memiliki syombolic value dan sign value, singkatnya apa yang masyarakat konsumsi saat ini tidak hanya tergantung pada kegunaannya dan nilai tukar saja, tetapi lebih kepada nilai simbol dan nilai tanda yang bersifat abstrak dan terkadang tersembunyi.

Dan akhirnya, pemikiran Baudrillard pun bermuara kepada, kegiatan konsumsilah yang menjadi inti dari ekonomi, bukan lagi produksi seperti apa yang dikatakan oleh Marx.

Scene 6

Terlihat dalam Scene tersebut, sebuah pamflet bertuliskan “Sample Sale” yang terletak di tempel pada tembok sebelah kiri. Terlihat juga ada sekelompok perempuan yang terlihat antusias dengan posisi mulai berlari seperti mengejar sesuatu.

Jika kita menonton film tersebut, sekelompok perempuan tersebut mengejar komoditas yang dijual hasil designer kenamaan dengan diskon hingga 50-70%. Dalam kehidupan masyarakat, potongan harga atau Sale dapat memunculkan kebutuhan baru, kebutuhan yang palsu, dengan alasan barang yang dibeli jauh lebih murah.

 

Scene 3

pada akhirnya masyarkat bukanlah mengonsumsi kegunaan dan fungsi barang dan jasa itu sendiri, tetapi mengonsumsi citra atau status sosial yang melekat pada barang tersebut.

 

Masih dalam Bukunya Lechte, Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, dan tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi, manusia justru melakukan diferensiasi, yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi. Hal inilah yang rasanya terjadi pada masyarakat kita saat ini, diferensiasi tersebut menjadi sebuah nilai bagi masyarakat, bahwa masyarakat memandang lebih kepada tanda dan simbol yang melekat pada barang dan jasa itu sendiri, yang pada akhirnya masyarkat bukanlah mengonsumsi kegunaan dan fungsi barang dan jasa itu sendiri, tetapi mengonsumsi citra atau status sosial yang melekat pada barang tersebut, sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak pernah merasa puas dan akan memicu terjadinya konsumsi terus menerus.

 

Scene 2

“Masyarakat konsumeris adalah masyarakat yang menciptakan nilai-nilai yang berlimpah ruah melalui barang-barang konsumeris, serta menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan” – Yasraf Amir Piliang  

Ya, konsumsi yang terus menerus.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s