Empat Maret dan Dua Orang yang Menghargai Momen itu

Puji syukur. Ya, saya rasa kalimat itu yang paling tepat saya ucapkan setiap hari dalam keadaan apapun, terlebih dalam memaknai perasaan dan peran hidup saya yang baru; sebulan sudah peran saya menjadi seorang suami dari istri yang membuat saya bersyukur sepanjangnya hari ke hari.

Hari Sabtu sebulan yang lalu tentunya akan menjadi memoar bagi saya dan keluarga saya dalam mengingat apa yang sudah dilewatkan dengan berbagai macam perasaan dan do’a-do’a yang dipanjatkan. Hari Sabtu yang lalu merupakan jawaban atas segala kekhawatiran yang terlalu banyak dipikirkan pada bulan-bulan sebelumnya.

Setelah kami berdua (pernah) mengkhawatirkan musim , kami akhirnya dapat melewati hari-hari tersebut dengan penuh rasa syukur.

Hari tersebut adalah  Hari Sabtu pada sore hari di 4 Maret 2017

Sore hari itu terlihat “nanggung”, awan yang sedikit abu-abu namun masih ingin memancarkan kecerahannya, menjadi pandangan pertama saya saat memasuki sebuah lapangan bola yang sudah diubah fungsinya untuk menjadi tempat berlangsungnya acara syukuran pernikahan kami berdua. Angin-angin dan suaranya menimbulkan keheningan bagi saya yang sudah gugup sejak berbulan-bulan lalu. Rerumputan tampak khusyuk menyaksikan jejak-jejak langkah kaki saya yang sedikit gemetar. Berpasang-pasang mata menatap kearahku sekaligus kedua orangtuaku, saya tak banyak memperhatikan mereka, namun saya tahu, berbagai macam perasaan dan do’a-do’a dari mereka ikut hadir memenuhi lapangan bola itu.

CIL_7551

Lapangan bola yang tampak penuh dengan kayu, sedikit bunga dan lampu-lampu. Masih hening, sebelum dipenuhi orang-orang yang sibuk saling mendoakan.

Ada hal yang cukup membuat saya sedih sekali, terlepas dari semua rentetan acara dan segala macam yang sudah dipersiapkan oleh kami berdua dan dibantu oleh panitia kecil yang diisi oleh sahabat-sahabat kami, yaitu tentang bapak yang mengalami kecelakaan pada saat hari sebelum anak lelaki pertamanya menikah. Sedih, melihat bapak memaksakan diri untuk memakai beskap dan menahan sakit berjam-jam hanya dibantu oleh obat analgetik saja.

Hari sebelumnya, bapak bermaksud untuk mengunjungi rumah saudara saya untuk membicarakan terkait persiapan keberangkatan menuju lokasi pernikahan, rumah saudara saya terletak di pinggir jalan, persis di pinggir jalan raya, dan ada sebuah got yang sudah kering terletak di pinggir pintu gerbangnya, tanpa disadari oleh Bapak -mungkin juga karena kondisi gelap- beliau melangkahkan kakinya malah kedalam got tersebut, karena got tersebut cukup dalam, akhirnya bapak terjerembab masuk dengan posisi bahu sebelah kanan yang menyentuh tanah terlebih dahulu, barangkali itu yang menyebabkan bahunya sedikit bergeser dan tangan kanannya terkilir, beliau sempat diurut malamnya sebelum paginya harus pergi dari Sukabumi ke Bandung.

CIL_7601

Sebagain tampak tangan bapak saya yang dibalut. Ceritanya bapak mengalami kecelakaan sehari sebelum tanggal pernikahan saya. Tangannya terkiir, bahunya agak bergeser. Terharu dan sedih melihat bapak harus dibalut seperti itu

Dalam keharuan tersebut, bapak tetap menenangkan saya yang khawatir dengan melihat keadaan tersebut. Akhirnya saya tahu, dari bapaklah saya belajar tentang ketenangan dan menenangkan.

Pukul 4 kurang, rekan saya yang juga menjadi MC mulai mengeluarkan suaranya, sebagai tanda bahwa acara akan segera dimulai, yang menyebabkan jantung saya berdebar lebih cepat sekaligus membuat saya tampak gugup pun tegang.

Saya, bapak dan ibu (sebutan untuk orang tua saya), disambut oleh Mamah dan Ayah (sebutan untuk orang tua istri saya), melihat mamah dan ayah ada rasa haru menyelimuti saya, tampak jelas kedua orang tua istri saya menatap saya dengan senyuman hangatnya, saya pun melangkah dan prosesi mengalungkan bunga pun dilakukan oleh Mamah.

GIE_4953

Saya masih ingat perasaan itu, perasaan dimana saya kembali meminta restu dan ridho kepada orang tua Dhea, istri saya, agar segalanya di Ridhai-Nya pula.

Setelah bersalaman, kami sekeluarga menuju tempat duduk yang sudah disediakan, untuk kemudian melangsungkan prosesi akad nikah.

CIL_7657

Langkah kaki yang tak hanya melibatkan tenaga. Langkah kaki yang diisi oleh do’a-do’a, keridhoan dan anugerah dari-Nya.

Kamipun sampai dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Saya masih ingat, sempat memandang ke langit, memejamkan mata, merasakan angin, merasakan nafas dan detak jantung, menatap langit yang berubah sedikit keabuan gelap, tanda mendung, mulutku terus komat-kamit mengeja do’a dan kepasrahan.

GIE_5075

Prosesi Akad yang magis, kulihat keluarga-keluargaku tersenyum sambil menangis. Saat ini saya sudah resmi bisa dipanggil sebagai seorang suami.

Istri saya menunggu dengan debar pula, saya yakin, istri saya dapat mendengar suara saya saat mengucapkan ijab qabul, saya yakin hal itu yang betul-betul mendebarkan jantungnya, bukan lagu-lagu how deep is your love nya Bee Gees, ataupun Close To You nya Carpenter yang sering kunyanyikan dengan gitar untuknya. Puji syukur.

CIL_7832

Pertama kali kulihat bapak menangis. 

CIL_7858

Menyambut istri untuk mempersiapkan rumah tinggal yang paling surgawi. 

Momen menyambut istri saya kira dapat saya lewatkan dengan biasa saja, nyatanya tidak. Bahkan saya selalu diikuti rasa haru pada saat menatapnya, yang menyebabkan mata saya berkaca-kaca, akhirnya kami berdua sudah saling memiliki tempat pulang yang paling nyaman.

CIL_7886

Menghadiahkan istri sebuah surat, sebagai tanda bahwa seorang istri adalah pengejawantahan dari do’a-do’a, harapan, keikhlasan, dan keyakinan.

CIL_7899

Tanda lainnya.

Selesai mengaji, puji syukur, hujan pun hadir mengunjungi kami, seolah-olah menumpahkan kebarokahan yang dikirimkan oleh-Nya. Hujan yang sempat dikhawatirkan oleh kami pun ternyata hadir juga, namun setelah ia hadir, ternyata kami berdua tak mengeluhkan hal itu, hanya ucap syukur yang terus kupanjatkan.

GIE_5187

hujan yang sempat kami khawatirkan, ternyata adalah Simbol dari kebarokahan

Selepas hujan, kamipun berpindah menuju stage, stage ini memiiliki peneduh dan rencananya akan digunakan oleh rekan-rekan keroncong Rani Sinar untuk tampil pada malam harinya.

Ada cerita menarik dibalik pemilihan stage yang memiliki peneduh ini, awalnya saya berniat untuk tidak memberikan peneduh dalam bentuk apapun, karena saya dan istri saya cukup idealis dalam memilih bahan-bahan yang digunakan dalam dekorasi pernikahan. Namun, sahabat saya (sebagai salah satu dari vendor sound dan stage) bersikeras menyarankan saya agar memakai peneduh untuk menutup stage, dan yang paling penting, menutup agar perangkat sound tidak terkena hujan. Atas pertimbangan itu pula, kami berdua akhirnya setuju dan betul-betul berterima kasih atas saran sahabat saya tersebut. Hingga akhirnya, prosesi sungkeman kepada kedua orang tua kami pun tak terganggu oleh basah kuyup kehujanan.

CIL_7991

Sedang menunjukan buku tabungan. Untuk nabung tawa, nabung bahagia, nabung senang-senang, dan nabung rasa syukur

CIL_8081

“Sayangi Dhea juga kakak dan mamah ayah, seperti menyayangi ibu bapak dan adik-adik”. Singkat, sederhana namun penuh makna, sebuah kalimat yang bapak lontarkan kepada anak lelakinya yang akan menjadi seorang suami

CIL_8115

Istri saya pun ikut terharu

CIL_8027

Bertambahlah perempuan-perempuan yang menjadi sumber surgaku.

CIL_8020

Saya dan Ibu

Akhirnya, perasaan lega menyeruak kembali, ketenangan kembali hadir, selepas sungkeman, kami berdiri. MC memberikan pengarahan jika acara akad sudah selesai dan akhirnya, hujan pun ikut-ikutan selesai, cuaca kembali menjadi cerah, syukur pun kami kembali ucapkan. Kami akhirnya berganti pakaian untuk bersilaturahmi bersama kawan-kawan juga saudara-saudara,

Sabtu Malam, tepatnya selepas Maghrib

Resepsi dimulai pukul 19.00, kami sudah berganti pakaian sambil  saling bercerita tentang perasaan kami berdua saat akad tadi. Sahabat saya yang membantu kami mengorganisir acara ini, menyapa kami dan  memberitahukan bahwa resepsi akan dimulai.

Kami mulai bergegas untuk menuju kendaraan yang akan mengantarkan kami ke pintu masuk lapangan bola tersebut. Alhamdulillah, tampak ramai oleh saudara dan kawan-kawan kami, mereka memegang kembang api masing-masing, menyambut kami di sebuah gerbang yang kami rancang dari ranting dengan bantuan sahabat saya.

CIL_8285

Sahabat dan keluarga kami, menyambut dengan penuh tawa

 

GIE_5359

Berbagi kebahagiaan bersama sahabat-sahabat kami

 

malam itu terasa hangat, cuaca cerah, kembali kutatap langit, tak ada setitik hujan pun yang turun, dalam hati kemudian aku berbisik “Nuhun Gusti, Alhamdulillah”, sambil menggenggam tangan istriku, kami berjalan dan duduk di atas pelaminan, menyaksikan pemandangan yang indah, ditemani musik keroncong yang mengalun tanpa tergesa-gesa, menyebabkan malam itu indah dengan perlahan.

CIL_8363

Rekan-rekan keroncong bernama Ranisinar, membuat malam menjadi syahdu

GIE_5240

Lapangan bola yang kami gunakan untuk hal lain

CIL_8383

Hangat dan Ramai tanpa menyebabkan sesak

Sabtu malam pun, semakin berlalu, tak terasa dua jam pun terlewati, kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul 21.00 tanda bahwa acara silaturahmi akan segera usai, tak ada hujan kali ini, rasa kebahagiaan dan syukur kami tertinggal di tempat ini.

Kami berbahagia dan bersyukur bahwa tanggal 4 Maret akan selalu kami maknai sebagai sebuah momen membahagiakan bagi kami.

Acara ini hampir seluruhnya dipersiapkan oleh kami berdua, namun pada H-7 hari, kepedulian keluarga kami juga sahabat-sahabat kami yang membentuk panitia kecil, membuat kami sungguh terharu dan berterima kasih sekali kepada mereka. Juga para vendor yang sebagian besar adalah sahabat-sahabat kami juga, rasa-rasanya tuturan tentang “mau menikahmah pasti ada rejekinya” itu benar kami rasakan, yaitu rejeki keluarga besar yang meridhoi kami dan sahabat-sahabat yang membantu kami.

GIE_5668

Sahabat-sahabat yang membantu mengorganisir acara kami

Rasa-rasanya, momen ini akan kami kenang sebagai sebuah perenungan bahwa kita disatukan oleh sebab kebahagiaan.

Tautan Foto 

CIL_7549

Kids Corner, yang digagas oleh Istri saya, agar ruang-ruang bermain untuk anak tetap tersedia, bahkan dalam konsep pernikahan pun.

 

CIL_8226

Sahabat dan Keluarga yang menghangatkan 

CIL_8670

Gerimis turun dengan manis, menghiasai dekorasi yang kala itu sudah usai. 

CIL_8664

KAMI

Sekian

Tulisan ini diikutsertakan kedalam momen 1 Minggu 1 Cerita bertema; Respek

 

Advertisements

20 comments

  1. Rizka · April 3

    Sukses menangis membaca ini. Haru dan campur aduk rasa lainnya. Semoga selalu bahagia sampai syurgaNya nanti.. Aamiin

    • Andihamad · April 3

      Terima kasih apresiasi dan doanya teh, Aamiin Allahuma Aamiin

  2. Puang Arrai · April 3

    Selamat semoga samawa, dan turut bersedih

    • Andihamad · April 4

      Hahaha turut bersedih gimana tuh?

      • Puang Arrai · April 4

        Ksian, saat saat bahagia malah dapat cobaan..

      • Andihamad · April 4

        Oh iyaaa itu betuuul

  3. hani · April 3

    Selamat satu bulan pernikahan. Semoga kompak selalu menyongsong ratusan bulan ke depan…

  4. Tatat · April 3

    So sweet.. Semoga selalu berbahagia dan diberkahi ☺

  5. MarQ · April 4

    Yeay! Akhirnya bisa melewati tantangan hujan.

    Semoga bisa terus mengarungi bahtera pernikahan.. Ahey! 😀

    • Andihamad · April 4

      Iya, akhirnya, puji syukur… Terima kasih, Aamiin 🙂

  6. hepykusumawijaya · April 5

    Salut gan… Ini akan jadi momen yang tak akn terlupakan bagi Agan dan juga pembaca.. Give applouse!

  7. endahmarina · April 6

    Semoga selalu menjadi keluarga yg sakinah ,mawadah dan warrohma ya bang andi …

  8. iamandyna · April 10

    Seperti kata Sheila On 7. Selamat berlayar, Bang! Really nice continuity sharing. :))

    http://www.iamandyna.com

  9. Ajeng Sekar Tanjung · April 18

    aaaah, ikut haru dan bahagia ❤
    selamat ya kang andi dan istri. semoga barokah selalu pernikahannya 🙂

    lima tahun lalu, saya dan suami juga ada di posisi yang sama. khawatir hujan karena kami memilih melangsungkan resepsi di ruang terbuka. kenyataannya hujan memang turun, sebentar. dan menurut kami itu salah satu wujud kebarokahan acara.

    selamat sekali lagi 🙂

    • Andihamad · May 3

      Wah harusnya sebelum pernikahan kemarin sharing-sharing dengan teh ajeng yah hehehe…

      Terima kasih teh, doa yang terbaik buat teteh dan suami juga anak anak yang lucu-lucu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s