Memaknai “Mimpi-Mimpi Einstein”

cangklong-dan-mimpi-mimpi-einstein

Pipa cangklong dalam foto ini adalah sebuah pengingat terhadap sosok Einstein, dan yang membuat saya yakin bahwa cangklong dapat membuat waktu menjadi lebih lambat

Saya sempat berfikir, bagaimana bila penanda “waktu” tak ada?

Mungkin pagi hari tak akan dijadikan alasan untuk bergegas bagi sebagian orang, mungkin ayam akan kebingungan kapan waktunya berkokok, mungkin kita tak akan pernah mengenal istilah sarapan, mungkin petani tak tahu kapan waktunya pergi ke sawah, mungkin sekolah akan hening dari bunyi-bunyi bel yang bersahutan, mungkin senja tak akan menemukan pengagumnya, mungkin pula Charil Anwar tak akan menulis puisi berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”, mungkin umur saya bisa dihitung dari jumlah kumis atau bulu dada yang tumbuh, entahlah, mungkin saja apabila “waktu” tak ada, kita pun nihil, karena saya sepakat dengan Heiddeger -dalam karyanya berjudul “Sein und Zeit” (Ada dan Waktu)- dimana seorang manusia yang memaknai waktu sehingga dia (waktu) ada dan waktu yang memaknai manusia sehingga dia (manusia) ada.

Kali ini, saya sangat bersyukur, pertanyaan tadi membawa saya kepada sebuah buku berjudul mimpi-mimpi Einstein yang ditulis oleh seorang Fisikawan bernama Alan Lightman sebagai buku pertamanya dalam kategori fiksi.

Terasa sekali konsep tentang waktu didekonstruksi oleh Alan, menjadi kumpulan mimpi-mimpi seorang Einstein di Kota Bern sejak 14 April 1905 hingga 28 Juni 1905. Mimpi-mimpi tersebut merepresentasikan sebuah dunia. Pada satu dunia, waktu diibaratkan sebagai sebuah lingkaran, sehingga semua kejadian dan peristiwa yang ada dalam dunia tersebut menjadi sebuah repetisi, dimana seseorang mungkin bisa saja mengalami kejadian yang sama berpuluh-puluh kali. Dunia yang lain menceritakan tentang waktu yang diibaratkan sebagai aliran sungai, sehingga apabila ada satu kejadian atau peristiwa yang merubah aliran tersebut, maka berubahlah semua kejadian lain di dunia itu. Kemudian, pada dunia yang lain, waktu berjalan menjadi lebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi, sehingga manusia-manusia yang tinggal di dunia tersebut pindah ke gunung-gunung agar mereka ingin lebih awet muda. Ada Dunia, dimana hubungan sebab-akibat menjadi tidak berlaku, yang membuat para ilmuwan menjadi putus asa dan ketidakpastian menjelma menjadi jiwa dari karya-karya seni.  Ada juga Dunia yang akan berakhir pada 26 September 1907, yang menyebabkan anak-anak menjadi gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya.

Dalam buku tersebut, terselip juga sebuah percakapan Einstein bersama kawannya yang bernama Besso, dalam sebuah percakapan pada halaman 38, Einstein berkata kepada Besso, “Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati Tuhan”. Percakapan yang membuat saya merinding, tentunya. Percakapan tersebut menjelaskan bahwa mimpi yang dialami Einstein dimaknai sebagai perjalanan tentang renungannya terhadap waktu dan membuat kita ikut terlarut merasakannya.

Saya ingin menyertakan beberapa penggalan mimpi dalam buku tersebut, seperti:

Orang-orang yang religius memandang waktu

sebagai bukti adanya Tuhan. Tak ada yang tercipta sempurna

tanpa adanya Sang Pencipta. Tak ada yang universal yang

tidak bersifat ketuhanan. Semua yang mudak adalah bagian

dari Yang Maha Mutlak. Di mana ada kemutlakan, di

situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf

menempatkan waktu sebagai pusat keyakinan mereka.

Waktu adalah pedoman untuk menilai semua tindakan.

Waktu adalah kejernihan untuk melihat salah atau benar. – Hal 24

Para filsuf telah menyatakan bahwa tanpa arah

menuju keteraturan, waktu kehilangan makna. Masa depan

tidak akan dapat dibedakan dari masa kini. Kepingan

peristiwa akan seperti satu petikan adegan dari ribuan

novel. Sejarah menjadi kabur, seperti pucuk pohon yang

diselimuti kabut malam. – Hal 49

 

 

 

ADA saru tempat di mana waktu berhenci. Butiran aIr

hujan bergelamungan kaku di udara. Bandul jam bergerak

separuh ayunan. Anjing-anjing mengangkat moncong

mereka dalam lolongan sunyi. Pejalan kaki membeku di

jalanan berdebu, seakan kaki mereka terjerat tali. Aroma

korma, mangga, ketumbar, dan rempah-rempah tertahan

di angkasa. – Hal 52

 

Begitulah, tempat di mana waktu berhenti, orangtua

tampak memeluk anak-anak mereka dengan pelukan abadi

yang tak akan pernah dibiarkan hilang. Seorang gadis belia

yang manis dengan mata biru dan rambut pirang tak henti hentinya

tersenyum, seperti saat ini. Tak akan pernah hilang

rona merah jambll dari pipinya, tak akan pernah kulitnya

berkerut atau kuyu, tak akan pernah terluka, tak akan

pernah ia melalaikan petuah orangtuanya, tak akan pernah

mengangan-angankan sesuatu yang tak dipahami oleh

orangtuanya, tak akan pernah mengenal kejahatan, tak akan

pernah berkata ia tak mencintai orangtuanya, tak akan

pernah meninggalkan kamarnya yang menghadap ke laut,

tak akan pernah berhenti membelai orangtuanya seperti

yang dilakukannya saat ini. – Hal 53

Narasi tersebut memberikan makna terhadap hubungan yang romantis antara Alan Lightman dan pikirannya.

Buku “Mimpi-mimpi Einstein” merupakan sebuah perjalanan imajiner ke berbagai belahan dunia yang memiliki maknanya masing-masing tentang waktu, dia merasakan bagaimana kebahagiaan dapat diabadikan dengan mengubah waktu menjadi beku dan berhenti, tak hanya itu, terasa sekali tulisan-tulisan tersebut mewakili rasa dalam perjalanan spiritual yang dia alami.

Mungkin untuk alasan itulah Tuhan menciptakan waktu, agar kita mengingat-Nya sepanjang waktu.

Tulisan ini dibuat pada saat hening, dimana waktu berhenti berdetik, ketika keheningan masuk kedalam pojokan kamar dan isi kepalaku.

Salam untuk

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

Advertisements

22 comments

  1. Riskana Deniawati · February 19

    Suka sekali bacanya. Terbawa masuk dalam isi ceritanya. Meski ada beberapa yang typo. It’s okay. Tak berpengaruh terlalu banyak.. Terima kasih selalu mmberi inspirasi..

  2. nihlafuadah · February 19

    kaka baca mimpi-mimpi einstein di pdf atau bukunya langsung?

    • Andihamad · February 19

      Kebetulan dapet pdf nya, buku sedang dalam perjalanan soalnya

  3. Andro · February 19

    Nice writing Mas Andi. Jika tidak ada waktu, saya sendiri akan bermalas-malasan 😂 biasanya baru greget kalau ada deadline

    • Andihamad · February 19

      Iyaaa mas, waktu juga yg membuat admin-admin jadi rajin menagih hahaha, btw thank you mas

  4. malasbangunpagi · February 19

    Btw, ada buku Alan Lightman selanjutnya yang sudah diterjemahkan dengan apik berjudul: Reuni

    • Andihamad · February 19

      Woooow thanks, sepertinya akan nambahin daftar buku yg harus dibeli

  5. dynamicphotorev · February 19

    jikalau waktu menjadi tiada, maka setianya bulan menemani malam takan lagi berarti. bagaimanapun juga matahari dan bulan terpisahkan waktu dimana keduanya masing-masing saling mengisi.

  6. Saya belum baca. Saya harus beli bukunya. Nampaknya ceritanya membuat bahagia.

  7. Asti · February 19

    bukunya sepertinya menarik. makasih reviewnya 🙂

  8. Tatat · February 20

    Sering kepikiran juga..kalo ga ada waktu, apa mungkin manusia akan merasa hidupnya lebih tenang? Pertanyaan selanjutnya, waktu yang diperbudak kapitalis..tuntutan bahwa waktu manusia harus selalu produktif ini sungguh menyebalkan.

    Pengen minta dikirimin PDF nya juga..tapi..saya lebih suka baca buku fisik. Gajadi deh.
    Nice post 😊

    • Andihamad · February 20

      Betul sekali, tuntutan bahwa waktu manusia harus selalu produktif, ada dalam pikiran-pikiran dromologi waktu, jika sedang luang, mungkin bisa mengkaji lebih jauh lagi.. Ada email kah? biar saya bisa share pdf nya si mimpi-mimpi Einstein

  9. Dian · March 12

    Menarik sekali. Kak boleh minta e-booknya mimpi2 einstein itu, saya mau kak dianing.meijayanti@gmail.com terimakasih kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s