Memaafkan Nasib dan si Pencuri Sepeda milik Antonio Ricci

Saat ini, saya tiba-tiba teringat sesosok Antonio Ricci dalam film “The Bicycle Thief”. 

Film tahun 1948 dengan genre -yang disebut beberapa sumber sebagai- Neorealism ( http://faculty.wiu.edu/D-Banash/eng389/Fabe.pdf ) berhasil membuat frekuensi bernafas saya turun selama menonton film tersebut. Bagaimana tidak, film berdurasi kurang lebih 93 menit tersebut, berjalan dengan alur yang menarik kita kedalam situasi yang terjadi saat itu, situasi pasca perang dunia ke II, lalu kemudian menunjuk kita untuk -seolah- menjadi seorang kaum pekerja pada saat itu, untuk berkawan dengan sesosok Antonio Ricci.

Film tersebut menceritakan tentang lelaki bernama Antonio Ricci yang tinggal di Italia pada pasca perang dunia ke II, dimana dalam film tersebut menjelaskan keadaan Italia yang pada saat itu sedang miskin dan banyak pengangguran. Antonio Ricci termasuk kedalam kategori pengangguran tersebut, hingga suatu saat, dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan  sebagai penempel poster, namun syarat untuk mendapatkan pekerjaan tersebut adalah dia harus memiliki sepeda.

antonio-ricci-looking-jobsumber foto : https://goo.gl/52SXOy

Antonio kemudian pulang, untuk menemui istrinya yang bernama Maria dan anaknya yang bernama Bruno. Bersama istrinya, dia kemudian pergi untuk menjual semua seprai yang ada dirumahnya agar dia dapat membeli sepeda. Akhirnya dia dan istrinya pulang kembali dengan membawa sepeda tersebut.

Antonio pun mulai bekerja. Dia mulai menempelkan poster-poster pada setiap sudut perkotaan, dengan sepedanya, yang menjadi harapan satu-satunya untuk kehidupan keluarganya.

ladri_di_biciclette_-_immagine_sumber foto : https://goo.gl/3z87yd

Hingga suatu saat, pada saat hari pertama bekerja menempelkan poster di tempat lain, sepedanya pun dicuri.

antonio-lost-their-bicycle

sumber foto : https://goo.gl/9qIrNo

Antonio berusaha mengejar pencuri sepeda tersebut dan melaporkan pencuri tersebut kepada polisi, namun sikap polisi yang seolah tak peduli dengan permasalahan yang sedang dihadapi, membuat hal tersebut menjadi sia-sia saja. Kemudian dia meminta bantuan temannya untuk mencari di pasar loak, karena dia berfikir bahwa pencuri tersebut kemungkinan akan menjual sepedanya di pasar loak tersebut. Antonio, beberapa orang temannya ditambah anaknya yang bernama Bruno, ikut membantu  Antonio dalam mencari sepeda yang dicuri tersebut.

Apakah Antonio akan mendapatkan sepedanya kembali? Bagiku pertanyaan tersebut memang harus dijawab dengan menonton langsung filmnya.

Film tersebut, merupakan sebuah karya yang dramatis. Saya membayangkan seorang Antonio, seorang manusia yang berusaha bertahan hidup pada situasi pasca perang, seorang ayah yang menjual semua seprainya untuk membeli sepeda yang akan dijadikan sumber penghasilan, namun bukannya mendapatkan sumber penghasilan, melainkan penghasilan yang sudah diharapkan malah lenyap. Hal-hal dramatis lainnya yaitu, ketika polisi dan masyarakat sekitar tidak peduli terhadap masalah-masalah yang dihadapi Antonio. Namun saya tidak akan menceritakan semua hal-hal dramatis yang berhasil membuat perasaan saya berkecamuk itu terlalu banyak, saya ingin menyarankan agar film ini bisa ditonton dan dimaknai secara langsung.

Saya kembali ingat, dengan kata-kata yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar, perihal “nasib adalah kesunyian masing-masing”

Nasib yang dialami Antonio, menimbulkan kesunyian bagi dirinya sendiri, dia merasa terasing dengan sekelilingnya, terasing dengan harapannya sendiri, seolah harapan yang dia bangun adalah perihal kondisi yang menjadikan dirinya nihil, perihal meruntuhkan eksistensi dari angan-angan yang sudah sedemikian rupa dia bangun sejak dia mulai menjual semua seprainya.

Namun, ada satu scene dalam film tersebut, yang mengajarkan saya tentang bagaimana seorang Antonio dan Bruno memaafkan nasibnya tersebut.

Namun pertanyaannya, akankah kita dapat memaafkan segala hal yang terjadi, apabila sedang berada dalam posisi seperti yang Antonio Ricci alami pada film tersebut?

Mungkin saja bisa, sebab saya yakin, kedamaian itu salah satunya tersembunyi dalam hal maaf dan memaafkan.

Salam damai

 

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

Tulisan ini saya sertakan sebagai sebuah proses berkarya bersama kawan-kawan 1 Minggu 1 Cerita

Advertisements

17 comments

  1. marini · February 10

    Kecee filmnya kayanya…belom pernah nonton jd penasaran endingnya..

    Salama kenal#1m1c

    • Andihamad · February 11

      Salam kenaaal… iya memang harus nonton filmnya langsung hehehe

  2. httpaititin · February 11

    Jadi pengen nonton filmnya…

  3. winnymarlina · February 11

    film jadul tp kayaknya seru ya

    • Andihamad · February 11

      Film yg sukses bikin kecamuk perasaan hehehe

  4. viadravia · February 11

    Download dimana ini filmnya? Jadi penasaran hehe

    • Andihamad · February 11

      Hahaha, aku lupa download dimana, nanti dicoba ku share di google drive barangkali bisa

  5. Tatat · February 11

    Suka sama gaya tulisannya ☺ dan mau nyari filmnya

    Salam,

    • Andihamad · February 12

      Hehehe thanks, iya filmnya rekomen menururku, salam

  6. mquinoo · February 12

    Salam kenal, Andiamad! A writing so compelling 🙂 Mungkin habis ini harus ajak anak-anak Kineforum bikin screening utk memuaskan rasa penasaran pembaca #1minggu1cerita hihihi. Kontributor di Cinema Poetica bukan?

    Cheers,
    Quino

    • Andihamad · February 13

      Haloooo salam kenal, quino, terima kasih sudah apresiasi, hihihihihi seruuu tuh kalo ada screening dan diskusi… hahahaha saya cuman pembaca cinemapoetica aja

  7. WilliamLesi · February 26

    filmnya kayanya bagus tu penasaran deh pengen nonton….

    • Andihamad · February 26

      Menarik mas, cocok ditonton di akhir pekan

  8. hepykusumawijaya · March 8

    Jadi pensaran gan… Nnti nontonn ahh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s