Memaknai kedamaian dari secangkir “Kopi Es”

Langit Pekanbaru cukup teduh siang tadi, kulitku nyaris tak tersentuh panas matahari yang menyengat saat berjalan kaki menyusuri jalanan di Pekanbaru. Rasanya aku beruntung dan patut bersyukur, hawa panas informasi juga berita di televisi sama sekali tak mempengaruhi hawa dan cuaca di tempatku.

Langit-langit tak berwarna biru, banyak abu-abu yang mendominasi warna langit siang tadi, abu-abu yang cukup pekat. Kulayangkan pandangan ke segala sudut perkotaan pun begitu, orang-orang tak terlalu ramai, hanya kendaraan yang sibuk berlalu lalang saling menyusul, seolah jalan perkotaan adalah ruang kompetisi perihal “siapa yang paling cepat”.

Setiap kota selalu menawarkan ruang-ruang untuk kita nikmati dan maknai, termasuk juga kota ini, Kota Pekanbaru. Kota yang sedang kukunjungi selama kurang lebih empat hari karena amanat pekerjaan. Siang tadi cukup luang, sehingga aku bisa berjalan kaki mengunjungi pasar, perpustakaan, dan satu hal yang selalu membuatku tertarik adalah warung kopi.

Kopi memang selalu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Sebagai sebuah ruang di tengah tumbuhnya kota, ia (warung kopi) ikut hadir dalam membangun ruang-ruang publik dan memfasilitasi terjadinya transaki ide, karya dan tumbuhnya komunitas-komunitas. Sebagai sebuah produk, kopi berkawan dengan individu yang menyajikan beragam metode pasca panen, roasting, brewing, beragam roasted beans dari berbagai macam daerah dan lainnya, selain dilihat sebagai sebuah produk, kopi Juga berkawan dengan individu-individu penikmat kopi, penyeduh kopi itu sendiri, hingga lahirnya gagasan kolektif terkait kopi itu sendiri, seperti @bandungngopi misalnya.

Di luar hal itu, kopi pun kembali diterjemahkan sebagai simbol-simbol dalam beberapa karya tulisan, seperti apa yang pernah dituliskan oleh Seno Gumira Ajidarma -dalam sebuah buku kumpulan essai beliau berjudul “Tiada Ojek di Paris”, pada halaman 67- dalam essai yang berjudul “kopi”, beliau menuliskan “Kopi bukan hanya caffeine, kopi telah menjadi makna”. Dalam bukunya beliau (lagi), yang berjudul “Jazz, parfum dan insiden”, ia menuliskan kalimat seperti ini;

“Setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama….
Aku selalu membayangkan ada sebuah Negeri Senja, dimana langit selalu merah keemas-emasan dan setiap orang di negeri itu lalu lalang dalam siluet.
Dalam bayanganku Negeri Senja itu tak pernah mengalami malam, tak pernah mengalami pagi dan tak pernah mengalami siang.
Senja adalah abadi di Negeri Senja, matahari selalu dalam keadaan merah membara dan siap terbenam tapi tak pernah terbenam, sehingga seluruh dinding gedung, tembok gang, dan kaca-kaca jendela berkilat selalu kemerah-merahan.
Orang-orang bisa terus-menerus berada di pantai selama-lamanya, dan orang-orang bisa terus-menerus minum kopi sambil memandang langit semburat yang keemas-emasan. Kebahagiaan terus-menerus bertebaran di Negeri Senja seolah-olah tidak akan pernah berubah lagi….” – Seno Gumira Ajidarma, Jazz, Parfum dan Insiden

Selain Mas Seno, sebait sajak dari Pak Sapardi Djoko Darmono, berjudul “Secangkir Kopi”, ikutan memberi makna bagi hadirnya kopi dalam setiap rutinitas kita, begini sajaknya:

“secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kauminum itu, tidak pernah mengusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau hirup ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada secangkir kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi”

Kopi ternyata tidak hanya dilihat sebagai sebuah produk saja, lebih dari itu, kopi telah mengisi ruang-ruang pribadiku sendiri dalam menerjemahkan dan memaknai segala sesuatu hal yang berkaitan dengan kopi itu sendiri.

Termasuk di Kota ini, Kota Pekanbaru.

img-20170131-wa00281

p_20170131_1512391

 

 

Kakiku melangkah ke sebuah sudut jalan, disana tampak lampion-lampion tergantung dengan cantik, menghiasi langit yang abu-abu, kulangkahkan kaki sambil sesekali melihat kiri kanan, banyak toko yang tutup, kemudian tak jauh dari pemandangan tersebut, berdiri megah sebuah vihara, seperti sebuah oase yang mewarnai langit agar tak selalu abu-abu. Persis di depan vihara tersebut, terpampang sebuah penanda yang terbuat dari kayu dan diberi cat putih, dengan tulisan berwarna merah, terbaca dengan jelas; “kedai kopi Laris”.

img-20170131-wa00301

Bangunan tersebut sederhana sekali, tak ada kaca yang luas yang menyambut kita seperti di starbucks, tak ada ornamen-ornamen yang tampak “instagramable”, tak ada penanda di tempat tersebut ada wifi atau tidak. Tempat itu sungguh sangat menggodaku untuk masuk kedalam, untuk duduk, dan membebaskan pikiran dari segala bahasan dan tafsiran tentang kopi itu sendiri, hanya memesan kopi dan duduk menikmatinya.

Kemudian aku masuk.

Seorang perempuan berusia (sekitar) 60-an, menyapaku, “pesan apa kak?”, tanpa banyak berfikir panjang, aku langsung memesan kopi es saja, untuk kemudian segera duduk. Perempuan tersebut, kembali lagi menanyakan, apakah aku mau memesan roti bakar juga atau tidak, dan tanpa berfikir panjang, aku pun mengiyakan pernyataan tersebut, bahwa aku ingin memesan roti bakar juga.

Sekitar 15 menit kemudian, datanglah secangkir kopi es dihadapanku, dihantarkan oleh seorang perempuan yang lagi-lagi berusia (sekitar) 60-an, hanya bedanya perepuan ini memakai kerudung. kemudian tak menunggu lama lagi, segera kucium aroma kopi tersebut, kemudian kuminum kopinya, dan jangan tanya bagaimana karakteristik kopi tersebut, hingga muncul pertanyaan bagaimana acidity, body, atau after-taste­nya, tidak-tidak, aku tidak memiliki keahlian untuk menyebutkan hal itu dengan cukup akurat, yang aku tahu dan aku rasakan, “kopi es” tersebut terasa damai, tenteram, dan sejuk, membuat diriku ingin sekali bersyukur karena hadirnya kopi es tersebut, dan membuat diriku ingin menyampaikan suatu hal, bahwa terkadang kedamaian itu sangat dekat dengan kita, hanya masalahnya adalah, kita mau memaknai hadirnya kedamaian itu atau tidak.

img-20170131-wa00261

Kedamaian ternyata hadir sesederhana itu.

Tulisan ini hadir untuk proses berkarya bersama 1 Minggu 1 Cerita

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

Advertisements

6 comments

  1. geistkade · January 31

    Setuju kak, kedamaian sangat dekat dan tergantung kita mau memaknai keberadaannya atau tidak. Bagus kak tulisannya 😊

  2. Rhoshandhayani · January 31

    Wew, kopi memang seringkali menjadi alasan untuk dibentuk dalam sebuah tulisan

    Keren tulisannya

    Saya baru tau kalo ada es kopi 😉

    • Andihamad · February 2

      Iya memang, menjadi menarik, dan patut dicoba nanti es kopinya 😀

  3. melia · February 2

    Ndi, kopi es di Pekanbaru ini udah jamak ya ditemui? Soalnya kalo di warung2 biasa (bukan cafe) kok rasanya jarang ada menu kopi pake es di Indonesia. 😀

    • Andihamad · February 2

      iya rasanya di Pekanbaru, kopi es pun cuma ditemui di kedai-kedai kopi di sepanjang Jl. Dr Leimena (daerah pecinan)

      Soalnya aku coba ke kedai kopi diluaran itu di Pekanbaru, gak ada juga menu kopi es nya 😀

  4. Titik Asa · February 3

    Pagi ini Sukabumi dingin banget.
    jadi yg pas, nikmati kopi panas dan menyimak alunan jazz…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s