Merespon Ruang; Memoar

35mm8

 

 

 

 

35mm10

Keberadaan ruang dimanapun memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk memaknai, merenungi atau meresapi. Ruang disini kusadari keberadaannya sebagai pemberi ingatan terhadap kenangan masa kecil yang damai. Masa kecil di kota kelahiran. Kota, tempatku menghabiskan senja dengan bermain layang-layang, kemudian berjalan menyusuri sungai sepulang sekolah.

Setiap kota tentunya memiliki sebuah identitas yang tak terbatas pada elemen-elemen fisik saja, lebih daripada itu, kota memberikan fragmen-fragmen yang menjelma menjadi memoar terhadap manusia yang mengisinya.

Melalui sebuah kamera plastik bermerk Fujica M1 dan roll film hitam putih merk Lucky yang sengaja dicetak sephia, aku coba menangkap memoar tersebut secara sederhana.

Foto-foto ini diambil pada tahun 2009, ketika itu aku sibuk bekerja dan tinggal di luar Kota, sehingga ketika itu terbilang cukup jarang untuk pulang, sekalipun pulang, rumah menjadi tempat ternyaman di bumi ini hingga tak ada waktu untuk sekedar berjalan kaki menyusuri pasar loak atau stasiun. Satu ketika di hari kerja, aku bolos bekerja, aku mengajak seorang sahabatku yang sedang bolos dari kuliahnya di Jakarta  untuk berjalan kaki mengunjungi stasiun, bangunan-bangunan di belakang pasar pelita, kapitol sukabumi, dan gereja sidang kristus.

 

35mm-1

Ketika kami berseragam putih merah, kami selalu menyusuri rel dari Stasiun Sukabumi, untuk sekedar berjalan-jalan yang tak tau arah tujuan. Ketika kami beranjak remaja, kami memiliki cara sendiri untuk menikmati hari, yaitu berjalan kaki di tengah malam berkeliling di pasar dan stasiun sambil singgah di warung kopi dan bandros kemudian berbincang tentang apapun hingga subuh tiba. Namun, pada pagi hari di tahun 2009, ketika kami bolos kerja dan kuliah, kami mencoba bernostalgia dengan rutinitas tersebut, kami berjalan menyusui rel kereta api tempat dimana ingatan-ingatan masa kecil dan remaja berada disana, tak ada hal yang kami bicarakan, hingga satu waktu, dia kupanggil, dia menoleh, dan aku segera memotretnya.

 

 

35mm13

Ruang-ruang sederhana, seperti rel, jalan berkerikil, dan stasiun menjelma menjadi sebuah kemewahan akan pemaknaan terhadap bagaimana kami menikmati hari-hari yang berjalan dengan pelan, seirama dengan langkah kaki kami, tidak tergesa-gesa, dan damai.

Sebuah foto yang merepresentasikan kerinduan terhadap Kota Sukabumi yang (saat itu) lengang.

 

 

 

 

 

 

 

35mm9

Aku khawatir, saat ini atau kedepannya, ruang-ruang tempat kami ‘berziarah’ ingatan akan hilang, oleh kecamuk pembangunan kota yang –entah secara sengaja atau tidak- mengaburkan identitas kota itu sendiri.

Muncul pertanyaan dalam benak, apakah kota yang bergelar sebagai kota yang layak huni telah adil memberikan ‘kelayakannya’ terhadap seluruh lapisan masyarakat yang berada di setiap ruang-ruang perkotaan?

Atau jangan-jangan gelar layak huni tadi telah diprivatisasi oleh beberapa individu sebagai investor dan pemilik modal?

Lantas, ditujukan kepada siapakan sebetulnya kota yang layak huni tersebut?

 

35mm5

 

 

 

 

35mm2

 

Bangunan yang kulihat setiap hari, ketika berangkat atau pulang dari sekolah, tampak polos. Bangunan tersebut selalu mengundang pertanyaan bagiku ketika itu, sehingga aku cukup sering bertanya kepada bapak, “Pak, Capitol itu dulunya bangunan apa?”

Barangkali pertanyaan yang aku lontarkan ketika itu merupakan respon terhadap nilai historis yang terkandung dalam bangunan tersebut.

Saat ini bangunan tersebut masih ada, hanya sayang, dia telah berubah menjadi media promosi komersil, tidak salah… Mungkin

 

35mm12

 

Aku suka melihat gereja tersebut, karena lokasinya tidak begitu jauh dari sebuah mesjid yang dinamakan Mesjid Agung, seperti melambangkan kedamaian yang muncul dari sebuah perbedaan. Barangkali kita bisa belajar dari bangunan tersebut. Belajar, bahwa kedamaian itu berdekatan, tidak dijauh-jauhkan.

 

 

 

 

 

 

 

35mm7

Tak terasa, siang pun tiba, kami mengakhiri perjalanan dengan duduk di atas rel kereta sambil memandang bangunan-bangunan yang berada persis di depan kami. Sama seperti tadi, tak ada dialog yang kami keluarkan, hanya keringat dan hembusan nafas yang lebih cepat tampak seperti bercakap-cakap dengan diri kami masing-masing sebagai hasil dari berziarah ingatan ke tempat-tempat yang sederhana namun berarti, setidaknya bagi kami sampai saat ini.

Berbicara saat ini, Kota ku telah tumbuh berkembang, kini ruko-ruko lebih banyak menghiasi wajah kota, tampak “menor”

Advertisements

30 comments

  1. iamandyna · January 30

    Wajah kota tampak ‘menor’. Ruang untuk ‘berziarah’. Saya suka personifikasi tentang Sukabumi-nya. 🙂

    • Andihamad · January 30

      terima kasih, terkadang -untuk beberapa hal- kota kelahiran menyerupai kekasih, hehehehe

  2. Chika · January 30

    Epik banget sih… Suka. Sama tulisannya yaa… 😀

    • Andihamad · January 31

      Terima kasih kak, rumahnisrin akan menjadi list blog yang frekuensinya akan sering saya kunjungi, tulisannya bermanfaat untuk calon suami sekaligus calon bapak nanti hehehehe

  3. nirmalanurfauzia · January 31

    Entah kenapa ya liat foto-fotonya langsung inget film Train to Busan, ini motretnya pas lagi mellow ya ? 😀

    • Andihamad · January 31

      hahahaha, iya, mungkin waktu itu jari saya lagi sendu-sendunya

  4. Jejak Katumbiri · January 31

    Ah..keren!

    Ga nyangka Sukabumi bisa nampak begitu eksotis.
    Itu fotonya pake apa?

    Salam kenal dari sesama #1minggu1cerita,
    MarQ

    • Andihamad · January 31

      Ah, terima kasih…. Saya foto pake kamera analog (toy cam) merk Fujica M1 (kamera tahun 80an kalo tidak salah, pake roll film hitam putih yang sudah expired… Salam kenal Jejak Katumbiri, terima kasih sudah menjejak komen disini 🙂

  5. Tatat · January 31

    Suka juga dengan tulisannya, Sukabumi jadi tampak romantis 😊

  6. Abdul Jabbar Fathoni · January 31

    Keren, suka fotografi juga kayaknya nih. Mengartikan sebuah potret menjadi sebuah cerita yang membawa kita ke dunia tulisan yang telah dipaparkan oleh si penulis.

    • Andihamad · February 1

      Sedang belajar pendekatan essay foto sebetulnya, hanya masih butuh banyak belajar mas… hehehe, trims mas

  7. novyaekawati · January 31

    Keren mas tulisannya tentang Kota Sukabumi 😄

  8. Hani · January 31

    Foto-fotonya memperkuat alur ceritanya. Trims kisahnya…

    • Andihamad · February 1

      Terima kasih juga apresiasinya, senang kalo ada yg ikut menikmati perasaan yg ditimbulkan hehehe

  9. Rhoshandhayani · January 31

    Wew, memoarya jadi menor nih 😆

  10. sarahs · January 31

    ini tulisan favorit saya di minggu tema.. suka bgt dengan tulisan dan foto fotonya 😃

    • Andihamad · February 1

      Terima kasih apresiasinya yah, syukurlah kalo menikmati

  11. phadliharahap · February 1

    Gaya tulisannya menarik ditambah foto yg okeh

    • Andihamad · February 1

      Wehehehe terima kasih, beberapa foto kenangan dari kamera yg sudah dijual

  12. kekopi · February 2

    Seumur-umur belum pernah nginjak daerah sukabumi, cuma lewat doang kalo kesana.

    • Andihamad · February 2

      Lain kali mampir sebentar mas ke Kota kecil Sukabumi hehehehe

  13. nihlafuadah · February 2

    Aku suka tulisan ka Andi. Menusuk bngt. Buat ka andi semangat nulisnya ka.. doakan aku suapaya bisa nulis sebagus kaka ini…

    • Andihamad · February 2

      Terima kasih nihla sudah apresiasi, pasti kamu bisa juga, semangaaat yah, Andi doakan aamiin

  14. Titik Asa · February 3

    Sukabumi 2009…
    Kalau mengingat Sukabumi masa lalu,ah eksotis, sejuk dan lengang. Apalagi saya mulai keluyuran di jalan-jalan Sukabumi sejak masa kecil, tahun 70-an. Jadi saya masih inget banget bentuk aslinya Capitol yg dulu sangat indah tapi sekarang demikian bikin sakit mata bila dipandang…

    Salam,

    • Andihamad · February 3

      Betul sekali kang, saya juga kangen masa-masa Sukabumi yang masih lengang hehehehe

  15. Pingback: Tulisan Terfavorit Minggu #1 Merespon Ruang ; Memoar – 1minggu1cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s