Mendaftar untuk Menjadi Seorang Nahkoda

Sewaktu memakai seragam putih merah, saya pernah bercita-cita menjadi seorang nahkoda, itupun gara-gara seorang guru yang sedang menjelaskan beberapa profesi, salah satunya yang guruku sebutkan adalah nahkoda. Guruku menyebutkan bahwa nahkoda adalah pemimpin sebuah kapal, ia berlayar mengarungi lautan, menerjang ombak, kapalnya besar, juga orang yang sangat tangguh. Begitu kira-kira ketika guruku menggambarkan seorang nahkoda kepada murid-murid kelasnya, dimana disana saya berada sambil melamun, membawa kapal besar, yang diikuti lumba-lumba yang melompat girang. Cita-cita tersebut tak pernah kuingat lagi hingga seragam putih merah tak lagi kukenakan.

Ingatan tersebut kembali muncul saat ini, disela-sela persiapan menuju pernikahan yang sedang saya rancang bersama seseorang yang sering kuanalogikan sebagai pengejawantahan do’a.

Ingatan untuk menjadi seorang nahkoda kembali hadir, hanya kali ini ia sedikit berbeda. Sederhana, hanya berbeda dalam menganalogikannya.

Kali ini, kapal yang akan kubawa adalah seorang istri, kelak bertambah seorang atau bahkan beberapa anak, sebuah keluarga dan segala unsur yang menyertainya. Kapal yang akan kami gunakan, haruslah nyaman, penuh dengan makanan kesukaan, beberapa pemutar musik untuk kami nyanyikan bersama di tengah laut, dan bertumpuk-tumpuk buku agar kami dapat menyelami berbagai keindahan ilmu.

Laut merupakan ruang tempat kami mengarungi hidup yang terkadang mengajarkan kami untuk harus berani melawan badai, ombak besar, cuaca buruk, kecamuk arus yang deras, bahkan memperbaiki bagian kapal yang rusak. Namun, tidak hanya itu, saya meyakini, bahwa laut memberikan sebuah keindahan yang dapat menjadi alasan kami untuk bersyukur tanpa batas, bahwa kami akan menikmati indahnya lautan yang tenang dan desir angin yang halus juga suara ombak yang merdu, menepi untuk berkemah di pulau yang indah, menikmati senja dari tengah laut, memancing ikan, berenang dan menyelam untuk menikmati segala keindahan bawah laut, mengajari anak-anak kami agar tak takut air, dan hal-hal lain yang membahagiakan.

Arah, adalah perihal “kiblat” hidup yang harus selalu saya pelajari terus menerus, hingga memahami secara penuh dan dipegang erat berdasarkan apapun yang menjadi dasar imanku. Saya harus membimbing para penghuni kapal agar sama-sama membaca dan memaknai arah, sehingga kami dapat membangun kerja sama dalam menguatkan dan mempertajam arah hidup kami.

Saat ini, nyatanya, ingatan itu tidak hanya hadir sebagai pengingat, namun menjelma niat, bahwa beberapa waktu kedepan, sebagai seorang lelaki, saya akan mendaftar menjadi seorang nahkoda, untuk pergi melaut bersamamu. Inshaa Allah, akan kupersiapkan matang diri ini, agar kelak, yang akan kita dengar di tengah laut adalah hanya suara ombak, karena tak akan kubiarkan suara tangismu dan bentakanku muncul melebihi suara ombak tersebut.

Inshaa Allah, Aamiin.

 

Advertisements

One comment

  1. ganganjanuar · December 11

    Aduh pagi-pagi udah terharu, euy 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s