Omer Avital – Abutbul Music (album); Sebuah album jazz yang cocok untuk menemani “joged” di tengah hujan

Bulan ini, hujan sedang senang turun di kotaku, menyapa setiap penghuninya hingga kebasahan bahkan kebanjiran. Ia pun selalu meninggalkan gigil-gigil di setiap redanya serta aroma tanah sehabis hujan yang (juga) sedap dihirup.

Bagiku, musim hujan adalah musim yang cukup berkesan, aku bisa bebas bersembunyi di dalam selimut atau menyeruput kopi sambil mendengarkan beberapa playlist kesukaan.

Berbicara tentang playlist, hujan bulan ini mengantarkanku untuk kembali bertegur sapa dengan seorang pemain contrabass dan komposer yang berasal dari Israel. Perkenalan pertamaku dengan Omer Avital belum terlalu lama, sekitar dua atau tiga tahun kebelakang, saat aku mulai belajar untuk bermain contrabass, saat itu aku mulai rajin mencari beberapa musisi contrabass sebagai referensiku, hingga akhirnya aku melihat penampilan live Omer Avital melalui kanal youtube yang membawakan lagu-lagu dari album suite of the east (2012), disitulah aku mulai tertarik dengan komposisi-komposisi yang ia buat, salah satunya pada komposisi song for peace pada album tersebut.

omer-avital-abutbul-music-album-cover-web-250x250

Beruntung, pada tahun 2016 tepatnya pada Bulan Maret lalu, ia melahirkan sebuah karya yang cukup menarik untuk dinikmati, sebuah album yang berjudul Abutbul Music. Album tersebut terdiri dari 12 komposisi, dimana 3 komposisi terakhir sebagai bonus track.

Album tersebut dibuka dengan komposisi berjudul “Muhammad’s Market”, kita akan disambut dengan sedikit sentuhan blues dengan dua orang pemain saxophone yang bertanggung jawab atas terciptanya melodi yang merangsang kita untuk berjoged. Soundnya terasa megah namun detail “betotan” contrabass dari Omer masih dapat kita dengar dengan jelas. Yang menarik dari komposisi ini, sekitar menit ke tiga, komposisi pun berubah warna menjadi hard bop yang memberikan kesempatan pada dua saxophone dan piano untuk saling bersahutan. Sangat tepat menempatkan komposisi tersebut di awal

Komposisi kedua berjudul “Three Four”, memberikan kesempatan bagi kita untuk merebahkan diri selama empat menit sebelum kembali berjoged pada menit selanjutnya, karena Omer sudah bersiap dengan sedikit solo nya yang bersahutan dengan piano dari seorang Yonathan Avisai, sejenak, terkesan aroma-aroma dan nuansa musik dari timur tengah mulai terasa. Komposisi yang cukup nyentrik.

Pada komposisi ketiga berjudul “Afrik”, kita akan kembali disuguhkan dengan nuansa musik-musik tradisional dari timur tengah yang memberikan kita kesempatan untuk berjoged. Ya, repetisi dalam komposisi ini, cukup berpengaruh.

Istirahat sejenak di komposisi keempat yang berjudul “New Yemenite Song”, tempo yang lambat, dengan nuansa (yang masih) timur tengah masih mendominasi sepertinya mengajak kita untuk sedikit mengalun dan terlarut menikmati setiap nada-nada yang dihadirkan.

Pada komposisi kelima berjudul “Bed-Stuy”, nuansa-nuansa timur tengah yang sedari tadi disuguhkan Omer mulai berkurang, digantikan oleh aroma-aroma Swing yang mendominasi kali ini, yang saya sukai adalah bagaimana dua orang pemain saxophone saling mengisi layaknya seorang sahabat yang terlibat kedalam percakapan menarik. Tidak hanya itu, saya pun menyukai sound dari contrabass yang Omer mainkan, karena suara-suara vibrasinya masih dapat terdengar jernih.

Pada komposisis keenam berjudul “Bass hijaz (intro to Ramat Gan)”, kita akan mendengarkan permainan solo dari Omer Avital, nada-nada yang ia mainkan kembali bernuansa timur tengah. Membayangkan bahwa komposisi-komposisi tersebut biasanya terdengar dari seorang pemain oud seperti Rahim Al Haj misalya, kali ini dimainkan pada contrabass. Gilak!

Ya, komposisi keenam tadi sebagai sebuah intro untuk menuju komposisi ketujuh berjudul “Ramat Gan”, kali ini yang bertanggung jawab terhadap melodi-melodi yang bernuansa timur tengah adalah dua orang pemain saxophone, yaitu Asaf Yuria dan Alexander Levin. Tidak aneh rasanya dalam album ini, nuansa-nuansa musik tradisional timur tengah muncul, karena ternyata, seorang Omer Avitel pernah mempelajari tentang musik Arab.

Di komposisi kedelapan dengan judul “Ayalat Hen”, nuansa swing kembali dihadirkan dalam album ini, namun komposisi ini tidak terlalu membuatku tertarik, sorry Omer.

Ditutup dengan komposisi yang agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Jika di awal kita disuguhkan dengan warna blues atau soul, di akhir album, komposisi bernuansa funk berhasil membuat kita kembali menggerakan badan kita, komposisi tersebut berjudul “Eser (Middle Eastern Funk)” tergambar jelas dari judul tersebut yang disuguhkan oleh Omer adalah komposisi funk dengan melodi-melodi khas timur tengah bercampur latin.

Begitulah perjalananku menikmati komposisi-komposisi dalam album Omer Avital yang berjudul Abutbul Music kali ini. Album yang menarik, terasa jelas bagaimana seorang Omer Avital mengawinkan jazz, blues dan musik tradisional timur tengah. Sebuah album yang cocok didengarkan pada saat hujan.

Membuatku jadi ingin berjoged-joged di tengah hujan deras yang mewarnai beberapa hari di Bulan Oktober ini.

Toda, Omer!

 

Sumber :

omeravital.com

Advertisements

2 comments

  1. Titik Asa · February 3

    Saya merasa kuper nih baca ini…
    Saya penyuka jazz, namun luput dari musisi jazz yg ini.

    Salam,

    • Andihamad · February 3

      Saya eksplor beberapa album menarik dari Spotify kang, banyak banget album menggoda untuk direview.

      Nuhun sudah mampir membaca kang

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s