Lebaran; Sunyi dalam Bising

Kumandang takbir bergema di seluruh penjuru kota, bersahutan dengan bunyi petasan, kembang api, klakson kendaraan serta knalpot bising. Bunyi-bunyi tersebut layaknya sebuah pertunjukan orkestra yang sedang tampil di depan ribuan penonton, dan sebagian masyarakat perkotaan turut ambil bagian sebagai penonton, sebagian lagi sebagai penampil. Kota ku menjadi ramai.

Bunyi-bunyi tersebut terdengar jelas olehku, yang sedang duduk di sebuah meja yang sudah penuh dengan aneka kue di dalam toples yang turut menjadi tanda dalam memaknai lebaran. Pikiranku kemudian melayang, hinggap di beberapa belas tahun kebelakang, saat kumaknai bahwa lebaran itu perkara baju baru, sendal baru, sepatu baru. Saat kumaknai bahwa hari raya itu perkara mengumpulkan berbagai nominal rupiah dari paman, bibi dan sanak saudara. Pikiranku juga menangkap ingatan-ingatan saat almarhumah nenek, almarhum kakek, ikut merayakan lebaran bersamaku. Aku masih dapat merasakan perasaan tersebut, perasaan saat-saat dimana berkunjung ke rumah nenek dan kakek pada pagi hari setelah sholat Ied merupakan saat-saat yang paling kunantikan, karena disana akan banyak berkumpul saudaraku dari banyak tempat.

Ya, ingatan tetaplah sebuah ingatan, sebuah ruang tempat menyimpan berbagai macam kenangan, memaknai berbagai macam pengalaman, dan merupakan sebuah tanda bahwa kita pernah hidup.

Saat bunyi-bunyian tersebut masih terdengar jelas, aku pun merasakan perbedaan yang cukup bisa kurasakan dalam diriku. Terlepas dari baik atau buruknya, aku merasakan sebuah kesunyian dalam diriku, bahwa kumandang takbir, bunyi petasan, bising kendaraan dan lainnya itu akan berangsur hilang, menuju keheningan, kemudian tiada, hingga berganti dengan bunyi-bunyi lainnya, berganti kembali menjadi ingatan-ingatan yang akan kembali kita ingat-ingat.

Tinggal tersisa diri kita masing-masing yang kembali merasakan keberadaan diri.

Terlepas dari segala atribut materi idul fitri, lebaran, hari raya dan apapun yang tidak abadi, melalui tulisan sederhana ini aku ingin meminta maaf terhadap diriku yang sering kuanggap tiada.

-Sukabumi, saat sedang hening-

Advertisements

3 comments

  1. winnymarlina · July 6, 2016

    jakarta juga sepi kak, btw Selamat Idul Fitri 1437 Hijriah
    Mohon maaf lahir batin

    • Andihamad · July 8, 2016

      Selamat Idul Fitri juga Winny, selamat menikmati lengang Jakarta 🙂 Mohon maaf lahir Bathin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s