Memaknai Komposisi Seorang Gardika Gigih

 “Musik merupakan penyebab kemabukan, kemabukan akan dia yang memberi kenikmatan pada telinga kita” – Roland Barthes

Kalimat dari Barthes membuat saya ingin memotret musik tidak hanya sebagai hal memabukan saja, juga sebagai sebuah karya yang menyimpan sebuah pesan, memberikan ruang bagi siapa saja untuk kemudian ditafsir sesuka hati. Ada yang menyebutkan kekuatan musik ada pada sebuah lirik, yaitu pada saat lirik tersebut merepresentasikan keadaan yang terjadi berdasarkan pengalaman penulis lirik tersebut. Namun, ada beberapa yang memberikan makna bukan pada lirik, justru pada komposisi nada instrumental itu sendiri, sehingga bisa menggambarkan suatu keadaan tertentu yang mewakili keadaan pendengarnya.

Mencari keintiman musik tanpa lirik seperti menyimak sebuah hubungan antara komposer dan komposisi musik itu sendiri, selalu menghanyutkan saya sebagai orang yang tadinya hanya mengintip dari luar, menjadi orang yang berpartisipasi terhadap hubungan intim tersebut.

Saya ingin menceritakan seorang komposer muda yang karya-karya nya patut kita apresiasi dan kita coba telusuri. Bagaimana musik dan bebunyian menurutnya, hingga pemaknaan dari beberapa karya yang telah ia ciptakan   karya nya selalu berkenaan dengan komposisi instrumental piano. Komposisi instrumental yang ia ciptakan dengan mudah nya mampu menyentuh perasaan siapapun yang mendengarnya, saya yakin. Tentunya ada perbedaan antara musik yang didengar dan musik yang dimainkan seseorang. Kedua Musik ini adalah dua seni yang sangat brbeda satu sama lain, yang memiliki sejarah, pengaruh sosiologis, estetika, dan erotikanya masing-masing (Barthes, 1990). Untuk itulah sekali lagi tulisan ini mencoba mengkaji bagaimana pemaknaan yang Gardika gigih berdasarkan perspektif dia-sebagai-pencipta-karya.

 

 

 

 

 

  1. Tentang Musik dan Bunyi

Diantara beragam definisi dan teori mengenai Musik itu sendiri, Gardika Gigih memiliki jawaban sendiri yang cukup sederhana,

“Apa itu Musik dan relasinya dengan bebunyian, mas?”

“Musik adalah bunyi-bunyian dan diam yang diorganisir manusia mas”

ketika ia mendefinisikan musik merupakan bunyi-bunyian dan diam yang diorganisir oleh manusia dan  jika kita coba meninjau definisi Musik yang saya temukan dalam buku yang ditulis oleh Karina Andjani,  meninjau definisi Musik tersebut dapat melalui sifat intrinsic, definisi subjektif, definisi intensional. Dalam konteks filosofis, memahami Musik tidak hanya melalui bunyi, namun juga melalui gagasan yang didapatkan dari bunyi tersebut (Andjani, 2014). Atau bisa saja, seperti merasakan Musik Gending Leluangan Kekebyaran dalam upacara Piodalan yang begitu kental mengandung makna dalam suatu ritual. Beragam bunyi yang hadir di sekitar kita, merupakan irama yang hadir secara alami, hingga ia dijadikan atau diorganisir menjadi sebuah komposisi yang memiliki makna dan estetikanya tersendiri.

 

  1. Proses Melahirkan Karya

 

“Menikmati karya mas Gigih, membuat saya ikut larut untuk memaknai karya Mas Gigih sendiri, namun saya juga ingin mengetahui Mas, bagaimana proses Mas gigih menghasilkan sebuah karya (yang tentunya melewati pengalaman-pengalaman, pemaknaan, lingkungan, referensi karya lainnya) ?”

 

“Tidak tentu. Tapi saya sering memulai proses membuat komposisi dengan bermain musik secara improvisatoris, mengalir begitu saja di depan piano. Nah biasanya dalam proses ini, saya merasakan berbagai hal, termasuk misalnya nostalgia maupun impresi terhadap hujan misalnya.

Ketika dalam bermain secara improvisatoris tersebut, saya biasanya menemukan lintasan-lintasan nada-nada yang ‘mengena’ dalam perasaan. Jika sudah begitu akan saya telusuri terus sampai jadi bentuknya, lalu saya ulang-ulang sehingga karya utuhnya jadi. Karya dengan alur penciptaan seperti ini antara lain “Hujan dan Pertemuan”, “Sudah Dua Hari Ini Mendung”, dan “Pada Tiap Senja:

Namun ada beberapa karya yang idenya datang tiba-tiba secara acak juga. Seperti saat berada di atas motor, saat jalan-jalan sore maupun saat sedang dalam kereta. Sangat acak “

Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa ia sering memulai proses membuat komposisi dengan bermain Musik secara improvisatoris, membiarkan jemarinya menari di atas tuts piano. Dalam alur dan proses nya tersebut, ia merasakan berbagai hal, termasuk misalnya nostalgia maupun impresi terhadap hujan. Ketika bermain secara improvisatoris tersebut, ia biasanya menemukan lintasan-lintasan nada yang “mengena” dalam perasaan, kemudian ia menelusuri hingga menjadi sebuah bentuk komposisi, belum selesai sampai disini, ia terus mengulang-ngulang sehingga menjadi karya dalam bentuk utuh.

Karya dengan alur penciptaan seperti ini antara lain “Hujan dan Pertemuan”, “Sudah Dua Hari Ini Mendung”, dan “Pada Tiap Senja”.  Namun, ia kembali menyebutkan, terkadang sebuah ide datang secara acak, seperti saat berada di atas motor, saat jalan-jalan sore maupun saat sedang dalam kereta. Acak.

Mengutip Suka Hardjana, dalam satu Essay nya yang ditulis pada Tahun 1988, menjelaskan bahwa karya dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuk diri, bisa merupakan lingkungan yang secara fisis berada di luar jangkauan wilayah etnosentrum mereka dan secara sosial entropologis juga di luar lingkup budaya mereka sendiri. Pengalaman masa lampau, orientasi, wawasan berfikir, kepercayaan dan lingkungan –lingkungan transdental lainnya, bisa saja berkembang menjadi dorongan-dorongan kreatif penciptaan Musik baru.

 

  1. Pemaknaan Terhadap Karya

 

“Mas Gigih, kalo saya lihat beberapa judul karya yang Mas Gigih ciptakan, antara lagu seperti memiliki keterkaitan atau merepresentasikan suasana Lingkungan Mas Gigih, seperti Hujan dan Cahaya, sudah dua hari ini mendung, Hujan dan pertemuan. Kemudian, ada yang menarik lagi, karya Mas Gigih merespon teks dari puisi Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan kecil, kemudian sebuah karya sebagai respon dari puisi Puspa Panglipur yang berjudul Lalu aku Pergi Seperti Kapal yang Tak Pernah Kau Temukan. Nah bagaimana, Mas Gigih menafsirkan/memaknai karya tersebut ?”

 

“Ini ada sekilas referensi pendukung yang saya kira relevan dengan pertanyaan nomor tiga ini mas, ini dari Klasika Kompas, diawawancarai oleh mas Benedictus Yurivito:

http://infoklasika.print.kompas.com/inspirasi-dari-hujan-dan-kereta-api/

 

Bagaimana saya memaknai, ya dengan merasakan bersama bunyi itu mas. Nah mengenai judul, memang saya suka berimajinasi, membayangkan cerita-cerita dan suasana-suasana, dan disitulah musik saya juga berkelindan. Beberapa teman menyebut musik saya bersifat ilustratif, mengajak imajinasi mengembara ke cerita-cerita, ke suasana-suasana. Begitu ya kira-kira. Semoga menjawab. Kalau ada pertanyaan lagi silahkan”

 

Memaknai sebuah karya tentunya merupakan hasil peleburan berbagai macam pengalaman, perasaan, intuisi, lingkungan bahkan hingga referensi karya lainnya, sehingga masing-masing pembuat karya –dalam hal ini adalah komposer- memiliki makna nya masing-masing.

 

Beberapa Karya yang merepresentasikan sebuah keadaan seperti, “Hujan dan Cahaya”, “Sudah dua hari ini mendung”, “Hujan dan pertemuan”. Gardika Gigih meleburkan sebuah komposisi dengan judul-judul bermakna hujan, karena menurutnya, impresi terhadap hujan adalah sendu dan sentimentil, Gardika Gigih meleburkan sebuah keadaan –hujan- dengan nada-nada yang berhasil ia susun, penuh dengan perasaan.

 

Tidak hanya hujan, juga Kecintaan dan ketertarikan seorang Gardika Gigih terhadap kereta api menarik ia untuk melakukan riset dari mulai mengenai sejarah perkeretaapian di Indonesia, kemudian datang ke Museum Kereta Api di Ambarawa, mengamati suasana stasiun dan seringnya mencermati Stasiun Lempunyangan, Yogyakarta. Riset ini menginspirasi proses penciptaan komposisi untuk orchestra, hingga lahirlah Train Musik-The Journey of Indonesian Railway yang dilangsungkan di Societer Taman Budaya Yogyakarta.

 

Setelah kereta api, ternyata senja hari adalah keadaan yang tak luput dari proses pemaknaan terhadap karya yang ia lahirkan, simak saja “Pada tiap Senja”, misalnya. Menurutnya saat senja itu, suasana menjadi hangat dan kadang-kadang seperti mimpi.

 

Masih ada dua karya komposisi musik berjudul “Lalu Aku Pergi Seperti Kapal Yang Tak Pernah Kau Temukan” dan “Senja di Pelabuhan Kecil”. Dua karya tersebut menarik karena selain dari nada yang ia hasilkan, ternyata dua judul tersebut asalnya merupakan puisi. Puisi Lalu Aku Pergi Seperti Kapal Yang Tak Pernah Kau Temukan, merupakan puisi yang ditulis oleh Puspa Panglipur, dan Senja di Pelabuhan Kecil merupakan puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar.

 

Komposisi Musik berdasarkan dari respon terhadap puisi karya dari Puspa Panglipur sangat mewakili dari teks puisi tersebut, rentetan nada piano yang diberi latar suara pianika yang menyerupai tanda kapal segera berlayar membangun sebuah imajinasi dan gambaran keadaannya tersendiri. Kemudian perlahan suara pianika tersebut menghilang, membuat suara piano menjadi terdengar lebih jelas, melodinya seketika masuk kedalam ingatan, hingga tak lama, kemudian suara pianika muncul kembali dengan pola volume suara yang semakin tinggi hingga kemudian kembali melarut, terasa sekali emosi yang Gigih sampaikan melalui bagian ini, seperti emosi terhadap suatu kepergian yang entah kapan bisa kembali. Seperti Puisi yang ditulis oleh Puspa Panglipur itu sendiri, tentang kepergian yang menyerupai kapal karam.

 

Kemudian Senja di Pelabuhan Kecil karya dari Chairil Anwar pun digubah kedalam komposisi musik berdurasi kurang lebih 3 menit, Nada yang ia pilih entah kenapa bisa menyiratkan sebuah perasaan kesendirian, seperti dalam salah satu syair puisi tersebut “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir Semenanjung, masih pengap harap”.

 

Menurut Gigih, ia memaknai karya nya sendiri dengan merasakan bersama bunyi tersebut, kemudian mengenai judul, ia memang suka berimajinasi, membayangkan cerita-cerita dan suasana-suasana, dan disitulah musiknya justru berkelindan. Beberapa temannya menyebut musik yang ia bangun bersifat ilustratif, mengajak imajinasi mengembara ke cerita-cerita, ke suasana-suasana. Dapat kita simak, bagaimana perasaan ikut berperan dalam suatu penciptaan karya.

 

Perasaan dalam karya seni itu timbul sebagai respon individu terhadap sesuatu di luar dirinya, yakni lingkungan hidupnya. Tetapi, dapat juga perasaan itu, respon rasa itu, muncul dari gagasan atau idenya sendiri. Kalau perasaan itu muncul dari luar dirinya, dari suatu stimulus yang terjadi adalah tindakan mengekspresikan perasaan itu ke luar dirinya dalam bentuk seni. Ia berjuang dengan medium seni yang dipakainya. Dan dalam pergulatan ini, seniman meraba-raba melalui mediumnya untuk menemukan kesesuaian perasaannya dengan wujud yang tengah dicarinya. Perasaan itu mencari-cari objek yang dapat disetubuhinya (Sumardjo, 2000).

 

Begitu banyak karya seni yang patut kita nikmati, yang membuat hidup ini menjadi lebih tidak membosankan, Gardika Gigih salah satu dari banyak seniman lainnya. Karya komposisi yang ia buat dan rata-rata kurang dari 5 menit, adalah terjemahan dari berbagai pengalaman, pemaknaan, perenungan serta intuisi yang ia dapatkan seumur hidup.

Wilhelm Dilthey, yang berbicara mengenai makna, bahwa dalam sastra dan sejarah, makna bukanlah sesuatu yang objektif, tetapi juga bukan sesuatu yang subjektif. Makna terus-menerus berubah sejalan dengan relasi antara penafsir dengan tema yang ditafsirkannya, yang merupakan relasi yang selalu berubah-ubah dalam ruang dan waktu. Maka dalam musik pun, dapat kita simpulkan, bahwa makna itu dinamis.

Jadi teringat sebuah kalimat dari Imanuel Kant, “Seni sepenuhnya merupakan kepuasan keindahan tanpa pamrih”

 

Rujukan:

  • Imaji, Musik dan teks. Roland Barthes
  • Apa itu musik, Karina Andjani
  • Musik antara kritik dan apresiasi, Suka Hardjana
  • Filsafat Seni. Jacob Sumardjo
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s