Tentang Bau Keringat yang Kamu Temukan Dimanapun!

Sore tadi, aku mencium bau keringatku sendiri, aromanya asam sekali. Kemeja yang sudah kusemprotkan parfum favoritku pun hilang baunya, menguap bersama terik matahari di Indramayu yang memang sedang terik-teriknya

Namun tiba-tiba

Bau keringatku sendiri membawaku berkelana ke tempat-tempat dimana aku mengingat bahwa aku cukup sering menemukan bau-bau keringat yang sama, tak kalah asam, entah dari ketiak atau dari bagian tubuh manapun.

Ingatanku membawaku ke sebuah terminal bis di Kota kelahiranku, bertemu dengan salah satu kondektur yang wajahnya sudah ku lupa namun yang khas adalah bau keringatnya, maksudku bukan khas, tapi aku tahu bahwa itu disebut bau keringat.

Kemudian aku kembali mengingat, beberapa anak jalanan yang sering kutemui dalam satu kegiatan pun memiliki bau yang sama, bau keringat.

Kemudian aku kembali mengingat, di tempat kostku yang memang cukup berdekatan dengan pantai, aku mengenal seorang bapak penjaga kost yang juga berprofesi sebagai nelayan, dari cerita yang ia lontarkan, ia menghabiskan 3 hari 3 malam di laut lepas untuk mencari udang, kemudian 3 hari berikutnya ia pulang ke rumahnya, tempat tinggalnya tidak jauh denganku, kami cukup sering berbincang, hingga waktu itu, ia baru pulang dari pantai dan kami berpapasan, akhirnya, bau keringat itu pun muncul lagi kali ini dari orang yang berbeda.

Dan bau bau keringat lainnya yang secara sadar sering kita temui dimanapun…

Bau keringat itu, kembali membawa ingatanku ke masa lalu, masa dimana aku masih berseragam putih biru, kali ini aku tahu, bau keringat itu asalnya darimana, ternyata dari bapakku sepulang beliau bekerja seharian, aku masih ingat, waktu itu aku protes terhadap beliau dan bau keringatnya.

Aku lupa, waktu itu usiaku berapa, namun belasan tahun kemudian alias saat ini, setelah aku bekerja, aku baru menyadari, ternyata bau keringatku pun sama saja dengan mereka, yang membedkan adalah aku berkemeja, dan mereka yang tadi kusebutkan diatas, tidak berkemaja. Dalam konteks bekerja, aku merenungi bahwa keringat menjadi sebuah pengingat bahwa sebagai lelaki, aku sedang berusaha bertanggung jawab untuk menafkahi kehidupanku

Aku tahu, bau keringat adalah bau yang cukup mengganggu bagi kita, aku setuju, namun berbagai macam bau keringat yang aku bahkan kamu temui di pasar-pasar, di jalanan, di sawah-sawah, di pabrik, di tempat penampungan sampah, di perkantoran dan dimanapun ia muncul dan tercium, itu adalah keringat yang mengingatkanmu tentang orang-orang yang berusaha dan berjuang

Hingga aku sadar, keringat-keringat orang tua kita juga adalah tetesan-tetesan hasil usaha dan perjuangan mereka yang pada ahirnya mengabadikan kita hingga saat ini, hingga saat dimana kita merasakan usaha dan perjuangan yang sama, hingga kelak kita menjadi orang tua

Saya lalu teringat tentang apa yang pernah dituliskan oleh Pram

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri” – Pramoedya Ananta Toer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s