Memaknai “Pekerjaan” (bagian pertama)

Barangkali, hidup adalah tentang menemukan sesuatu, baik segala hal yang kau syukuri ataupun segala hal yang kau murkai.. Namun itulah tanda bahwa kita sedang hidup

Aku yakin, kau pun pasti selalu menemukan segala sesuatu di setiap harinya, apapun itu.

Dan aku ingin menceritakan sedikit hal tentang apa yang aku temui pada saat bekerja..

Pekerjaanku sangat sederhana, barangkali bagi sebagian orang, pekerjaanku adalah pekerjaan yang jauh dari kesan mewah. Namun bagiku, justru berkebalikan ini adalah pekerjaan yang mewah, sebab inilah pekerjaan yang kucintai. Bagiku, pekerjaan yang dicintai itu jauh lebih mewah, daripada pekerjaan yang bergengsi namun setiap hari dikeluhkan.

Aku bekerja menjadi seorang Field Officer untuk salah satu NGO (Non Governmental Organization) yang bergerak di bidang Kesehatan Ibu dan Anak. Field Officer atau disebut petugas lapangan, adalah orang yang menjadi koordinator di lapangan untuk melakukan koordinasi, monitoring dan evaluasi agar program yang dirancang bisa berjalan sesuai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sekilas memang terdengar ringan, hanya menjadi koordinator, tinggal monitoring, sisanya kalau ditemukan kekurangan tinggal evaluasi dan perbaiki lagi.

Tetapi ternyata itu semua belum tepat. Menjadi Field Officer mengharuskan kita untuk melakukan kunjungan langsung ke tempat-tempat sasaran yang kita tetapkan. Kalau cakupan daerahnya satu Kecamatan, berarti area kerja kita satu Kecamatan. Nah, untuk pekerjaanku sekarang, aku harus menjadi koordinator untuk satu Kabupaten di Indramayu, karena memang cakupannya adalah satu Kabupaten

Akhirnya, inilah pengalaman pertama bagiku bekerja di NGO sebagai petugas lapangan.

Aku mengkoordinir 49 Puskesmas yang tersebar di 31 Kecamatan, dan itu semua harus dilakukan dengan kunjungan langsung ke setiap Puskesmas untuk kemudian bertemu dengan Staff Promosi Kesehan di tiap Puskesmas tersebut.

Kegiatanku untuk berkeliling di lapangan, mengharuskan aku untuk berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda di setiap desa, baik itu interaksi yang berhubungan dengan pekerjaanku secara langsung, ataupun berinteraksi untuk menanyakan jalan dan lain-lain. Rutinitas tersebut hampir kulakukan setiap hari, berbeda lokasi. Jaraknya, jika dihitung dengan berpatokan melalui “Km” yang tertera pada motor, dalam sehari, aku menghabiskan kurang lebih 100km untuk jarak tempuh yang aku lakukan dengan berkeliling ke setiap Puskesmas/Desa. Sepintas, jarak tersebut cukup jauh untuk dilalui setiap harinya. Namun ternyata di tengah-tengah perjalanan selama seminggu ke belakang, nyatanya aku malah menemukan berbagai macam hal untuk aku maknai.

Aku ingat, siang itu cukup terik, aku mulai terbiasa dengan bau keringat yang selalu menjadi parfum keduaku. Seminggu aku sudah tinggal di Indramayu, aku jadi tahu, jarang sekali aku merasa kedinginan di Kota ini. Apalagi selepas mandi, aku sulit membedakan mana tubuh yang basah akibat air bekas mandi dan basah karena keringat.

Siang itu aku sedang berkeliling menuju salah satu Desa yang terletak di sekitaran jalur Pantura, karena aku kurang hafal dimana letak desa tersebut, aku pun berhenti di sebuah warung kopi untuk menanyakan arah untuk menuju ke desa tersebut, selesai bertanya, ada seseorang yang menyapaku, “A, ti Sukabumi oge?” (A, dari Sukabumi juga?). Aku kaget, kok dia hafal aku dari Sukabumi, dan, ah aku ingat, plat nomorku di motorku jelas menunjukan bahwa aku berasal dari sukabumi. Pria yang menyapaku itu terlihat masih muda, dan dia duduk di bangku sebelah luar warung kopi tersebut, sehingga dia bisa melihat jelas plat nomor motorku yang diparkirkan tidak jauh dari pria tersebut duduk. Kemudian aku segera menjawab, “Iya A, ti Sukabumi, ari aa timana, ti Sukabumi oge?” (Iya a, dari Sukabumi, kalau aa darimana, dari Sukabumi juga?). Dia mengiyakan jawabanku sambil menambahkan jawaban, “Muhun A, abdi ka Indramayu Direct Selling Kompor Gas” (Iya a, Saya ke Indramayu untuk Direct Selling Kompor Gas). Aku kemudian terkaget dengan jawaban yang pria terseut lontarkan. Akhirnya aku kembali penasaran dengan menanyakan, “Sukabumi na timana A?” (Sukabumi nya darimana A). Dia segera menjawab, “Ti Baros A, hehehe”. (Dari Baros A, hehehe). “Dupi aa, nuju naon di Indramayu?” (Kalo aa, lagi ngapain di Indramayu), dia berbalik bertanya kepadaku. “Abdi kaleresan damel di dieu a, ngadamel program ka tiap Puskesmas” (Saya kebetulan kerja disini a, bikin program untuk tiap Puskesmas), segera kujawab, sekaligus aku pamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Desa yang tadi aku tuju. Ketika hendak menyalakan motor dia menghampiri aku, kemudian memberitahuku sesuatu, “A kade, lamun lewat jalan nu tiiseun, mending ngebut sakalian, tingali spion bisi aya nu nuturkeun” (A awas, kalo lewat jalan yang sepi, lebih baik ngebut sekalian, liat kaca spion takutnya ada yang mengikuti). Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih untuk sarannya.

Di perjalanan, aku memikirkan pekerjaan pria tersebut. Kau bisa bayangkan, pergi dari Sukabumi ke Indramayu hanya untuk Direct Selling atau Jualan langsung Kompor Gas, berapa kemudian laba yang dia peroleh, kemudian ongkos yang ia keluarkan dari Sukabumi ke Indramayu, kemudian jarak yang ia tempuh. Satu kata, salut. Pria tersebut menghadapi ketidakpastian dengan keberaniannya. Aku melihat bahwa perjuangan yang ia lakukan adalah perjuangan yang tidak mudah, bagiku pria tersebut telah menemukan kemewahan dalam pekerjaannya.

Aku kemudian kembali bertanya pada diriku sendiri, sudah sejauh manakah aku berjuang untuk menafkahi diriku sendiri yang mana hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi lelaki seusia saya?

Apakah aku sudah cukup bertanggung jawab untuk diriku sendiri, melalui pekerjaan yang kulakukan?

Untuk pria penjual kompor gas yang tak sempat kutanyakan namanya, terimakasih telah memaknai pekerjaanku.

bersambung……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s