Kota dan Surau Kecil

Jalanan memiliki ceritanya masing-masing, termasuk untukku, suatu ketika sedang “ngeboseh” sepeda, kuamati keadaan Kota dari waktu ke waktu semakin sesak, tumpukan kendaraan memenuhi jalanan, tumbuhnya gedung-gedung besar berupa tempat perbelanjaan yang angkuh serasi dengan kerakusan para pemilik modal, hilangnya sawah-sawah dan ruang terbuka hijau sebagai fungsi ekologis perkotaan, tak lupa arogansi para pemilik kendaraan bermotor yang ikut-ikutan mewarnai hari.

Kota yang menurutku tadinya bertugas untuk menjadi tempat lahir dan tumbuhnya kebahagiaan, keamanan dan kenyamanan bagi semua lapisan masyarakat, saat ini malah menjadi sebuah ruang paradoks, dimana, dalam satu kota, di belakang gedung perkantoran yang para karyawannya dapat menikmati gaji bulanan, terdapat pemukiman kumuh yang penghuninya sibuk berfikir keras bagaimana untuk menggaji dirinya sendiri secara rutin. Munculnya permasalahan di dalam perkotaan yang cukup kompleks dari mulai kemacetan, banjir, tumpukan sampah, kecelakaan lalu lintas, jalanan yang rusak, membuat kita sebagai penghuninya menjadi makhluk urban yang pandai beradaptasi dengan beragam kekacauan yang lama kelamaan mengikis rasa kepedulian. Segregasi antara para pekerja kantoran dengan pengemis, mobil kreditan dengan becak, mini market waralaba dengan warung kelontong, polusi dengan car free day, pun ikut serta mewarnai wajah suatu kota. Kota mulai kehilangan identitas sebagai “rumah yang nyaman”, berganti menjadi sebuah ruang yang penuh dengan kecamuk berbagai macam hal, selain dari hal-hal yang telah disebutkan tadi.

Beragam solusi sudah mulai ditawarkan untuk membangun kota ke arah yang lebih baik, namun apakah perkembangan tersebut dapat dirasakan dan diakses oleh masyarakat-masyarakat yang kurang mampu? Beberapa Kota sudah memiliki pengharagaan sebagai Kota Sehat, namun apakah fasilitas kesehatan yang optimal dapat dirasakan dan diakses oleh semua lapisan masyarakat? Lantas, kalau belum, kebutuhan pembangunan ini ditujukan untuk siapa sebetulnya? Apakah ditujukan kepada para pemilik modal untuk membentuk market saja? Bagaimana wujud kota kita beberapa belas tahun ke depan?

Aku sampai bingung, kenapa pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu mampir di pikiranku, mungkin itu merupakan ungkapan dari kegelisahanku untuk hidup di perkotaan, bukan tak mau bersyukur, hanya saja, bagaimana kita akan merasa bersyukur jika kita hidup berdampingan dalam suatu ruang yang dipenuhi oleh kerakusan. Atau mungkin saja aku sedang kurang piknik.

Tapi, bukan berarti kota selalu bermakna buruk. Kota terkadang menyimpan kedamaian-kedamaian dengan caranya sendiri. Iya, kedamaian yang disembunyikan di dalam gang-gang, yang terkadang nilai-nilai gotong royong nya lebih jelas terasa. Aku menemukan salah satu kedamaian yang kemudian menjelma kedalam sebuah bangunan bernama Surau.

Surau yang kutemui terletak di dekat warung kopi milik temanku, warung kopi tersebut letaknya cukup jauh dari jalanan utama, ia tersembunyi di dalam gang yang hanya menjadi jalan alternatif kala jalanan utama sedang macet. Hampir setiap hari aku berkunjung ke warung kopi tersebut, untuk sekedar membaca, berbincang, ataupun singgah istirahat. Ketika waktu maghrib tiba, biasanya aku mengunjungi surau tersebut, jarak nya tak terlalu jauh, terkadang malah tidak terdengar adzan dari surau tersebut, awal mula nya pun aku bingung, karena ketika aku datang, surau tersebut masih gelap, tanda bahwa belum ada orang yang datang untuk sholat maghrib di tempat ini, aku mulai mengamati isi surau tersebut, cat hijau yang sudah mulai memudar memberi kesan bahwa surau tersebut sangat jauh dari kemegahan, tidak ada tanda-tanda seorang arsitek berpengalaman pernah merancang surau tersebut, terbukti dari bangunannya yang sangat sederhana. Ketika sedang asyik mengamati, kemudian muncul sesosok bapak-bapak mulai masuk ke surau tersebut, ia tersenyum kepadaku, pakaian yang ia kenakan sama sederhana nya dengan keadaan surau tersebut.

Setelah selesai aku tidak langsung beranjak dari tempat itu, masih asyik mengamati surau kecil tersebut, aku mulai bertanya-tanya ke dalam diri ku sendiri. Mengapa banyak mesjid sibuk untuk mengejar renovasi ke arah kemegahan, apakah renovasi mesjid kemudian secara langsung ikut merenovasi hati setiap orang yang beribadah di dalamnya? Apakah kemewahan suatu mesjid memiliki relasi yang kuat dengan kemewahan hati orang-orang yang beribadah di dalamnya? Apakah ketika mesjid tersebut megah, membuat kita menjadi semakin khusyuk dalam beribadah? Apakah saat ini kesederhanaan adalah sebuah kemewahan yang sulit didapat?

Kembali pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul dari dalam diriku sendiri, yang kuajukan juga kepada diriku sendiri. Dimana dalam sesak dan kecamuknya kehidupan perkotaan. Sebuah surau dan nilai ibadah yang dijalankan mampu menjadi sebuah penenang. Surau menyiratkan kedamaiannya sendiri, yang tak terbelenggu oleh hal-hal yang sifatnya duniawi.

Setidaknya bagiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s