Kontemplasi sederhana di angka manusia yang ke-24

Pernahkah kita sedikit merenungi, bahwa sebetulnya –setidaknya menurut aku- kita semua hidup untuk menjadi pengepul doa dari setiap manusia, terlepas dari atribut apapun yang mengekangnya?

Ya, aku sedang…. Aku sedang merenungi hal itu, merenungi ketika hidup yang terkadang berjalan tak baik ini, aku masih memiliki doa dari siapapun sebagai pelumasnya. Setidaknya untuk diriku yang belum baik ini, aku masih memiliki sebuah keyakinan untuk berbuat baik agar kembali mendapatkan kebaikan dan membuat orang lain mau berbuat baik pula. Sesederhana itu, namun kurasa penting, sedikitnya untuk mencoba berdamai dengan semesta. Aku lebih banyak menjadi pengepul doa dari orang lain, ketimbang menjadi pendoa yang ahli bagi diriku sendiri apalagi untuk yang lain. Ya, inilah yang harus segera kuperbaiki, salah satu dari sekian banyak hal yang harus kuperbaiki.

Tepat di tanggal yang 29 ini, aku merenungi lama tinggal diriku di bumi yang sudah 24 tahun, lama bukan? Ya masih banyak yang lebih lama dariku, disana. Namun sudah kubilang, aku ingin merenungi perananku yang sedang hidup di bumi saja, peranan yang terus kucicil agar menjadi sebuah manfaat bagi kehidupanku kelak, dan bisa dirasakan oleh siapapun dalam belahan bumi manapun juga kapanpun. Agar ketika aku pulang ke belahan dunia yang lain, aku bisa senang, karena tidak menyia-nyiakan perananku di belahan bumi ini.

Perjalanan di bumi memang menyenangkan, belok kesana kemari, terkadang melompat atau terjembab, bisa sampai berjalan pelan kemudian berlari dan keseleo kaki, bertemu penghuni bumi lain kemudian dibuatnya tertawa hingga sedih, baik kemudian buruk, berjanji kemudian mengingkar, mengingat kemudian mengabaikan, mengaku diri yang paling hebat padahal tidak seberapa, menilai penghuni bumi lainnya, menjadi penyebab kesedihan orang lain, menyimpulkan senyum. Dan aku yakin, bahkan kamu pun sedang melakukan perjalanan di bumi ini dengan menyenangkan pula bukan? Sebab, sederhana saja, Seburuk apapun segala sesuatu yang ada di bumi, tetap saja ia menyenangkan, entah kenapa, aku begitu mudah bersyukur atas semua keadaan yang telah Tuhan suguhkan kepadaku, dan aku mau kita pun begitu, aku yakin Tuhan memang Maha Romantis!

Harapanku, sederhana saja, aku ingin menikmati tempat tinggalku di bumi, lengkap dengan caranya bersyukur dan berdamai bersama semesta yang kucintai ini. Dengan begitu, kelak aku bisa menumbuhkan benih-benih manfaat untuk siapapun yang ingin memanennya tanpa terkecuali.

(Semoga ketika kucapai itu semua, disana ada kamu yang sedang menemaniku, sebagai pendoa bagiku, juga kelak yang akan kupanggil istri) 

untuk kalian, penghuni bumi yang lain, begini puisi nya:

Beragam doa kita sebut

Hingga mulut mencucut, hati menciut, tangan yang ikutan berlumut

Aku tahu, disana Tuhan menurut

Tapi kemudian……

Kita cemberut, karena doa tak kunjung ikut menurut

 

Tapi aku yakin, kita adalah penurut bukan penuntut

Hingga Tuhan mangut-mangut

Kemudian menurut

 

Teruntuk yang menghuni bumi dimanapun belahannya, semoga selamat selalu

 ———————————————————————————————————-

Catatan kecil: Selamat, bukan bermakna menyelamati, memberikan apresiasi atau menyampaikan kegembiraan…. Jauh daripada itu, Selamat bermakna mendoakan agar kita selamat tinggal di Bumi ataupun Akhirat

“Teruntuk Bapak dan Ibu, terimakasih sudah melahirkanku tepat di tanggal ini dua puluh empat tahun yang lalu”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s