Ide itu bernama Recoffeery

Sore itu seperti biasa, warung kopi sudah menjadi lawatan kami, menyempil dalam rutinitas yang acapkali berkutat dengan kecamuk pikiran yang menjadi penyebab hubungan kami menjadi lebih erat dengan gelas-gelas kafein.

Setelah saya dan kawan saya bertemu di warung kopi, maka sudah dipastikan mulut-mulut kami akan penuh busa karena percakapan yang tak henti-hentinya membicarakan segala sesuatu yang ada di dalam kepala kami masing-masing.

Jikalau Seno Gumira -bertahun-tahun kebelakang sebelum ramai menyeruak kedai dan warung kopi seperti sekarang-  beliau menyebut kopi bukan hanya sekedar kafein, ia telah berubah menjadi makna, maka lumrah, narasi-narasi terhadap kopi hingga saat ini semakin ramai, seramai tumbuhnya kedai-kedai kopi di setiap kota, khususnya Kota yang saat ini kutinggali dan kuberaki, Bandung.

Tumbuhnya jumlah kedai kopi di kota ini, tentunya membuat bahagia, sudah jelas, semakin banyak kedai kopi, akan memudahkan saya ketika ingin ngopi, bayangkan kalo jumlah kedai kopi di Bandung kurang dari sepuluh, sudah pasti akan antri, antrinya dari jam 3 dini hari, kita mau ngopi jam 10 pagi, antrinya harus jam 3 dini hari, itupun harus berebutan dengan jasa titip minum kopi, eeeh ternyata kedai kopi itu pun pake jasa Endorse Syahrini, Bella, Keluarga nya Raffi Ahmad atau siapapun itu yang sering keluar masuk TV. Untunglah itu tidak terjadi di sini.

Kembali lagi, tumbuhnya jumlah kedai kopi, dan semakin banyaknya kopi yang muncul dari daerah-daerah (khususnya) di Jawa Barat, tentunya berpotensi akan perkembangan usaha “dagang kopi”. Namun itu pula yang setidaknya mengganggu pikiran saya hingga saat ini, saya selalu diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab hingga sekarang, seperti :

“Saya sering banget ngopi, tapi nanti ampas kopinya dibuang kemana yah?”

“Para pegiat kedai kopi, membuang ampasnya kemana yah?”

“Saya yakin ada tukang seduh atau barista yang sudah aware dengan pemanfaatan ampas kopi, tapi apakah masih ada yang belum aware?”

“Kalo banyak kedai kopi, berarti berapa banyak timbulan ampas kopi dikalikan jumlah kedai kopi di Bandung ini ya?”

 

 

Dan pertanyaan lainnya…. Hingga akhirnya, saya pun bertemu dengan dua orang kawan sambil menyeruput kopi dan kebetulan, iseng saja saya membicarakan pertanyaan-pertanyaan tadi, sehingga dari hal tersebut terbersit sebuah inisiatif untuk mengumpulkan ampas kopi dari kedai-kedai kopi di bandung, kemudian mencoba mengolah ampas tersebut menjadi sebuah pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh petani.

Ya, kemudian ide ini berniat untuk kami realisasikan menggunakan nama Recoffeery.

coffee-garden

Foto ini diambil dari http://earth911.com/home/making-your-garden-beautiful-with-used-coffee-grounds/ dan tidak ada kaitannya dengan proses komersialisasi sebuah produk yang menghasilkan profit. Silahkan baca link tersebut untuk referensi tentang pemanfaatan ampas kopi

Recoffeery ini sebuah kata yang saya ambil dari recovery, sebenernya kata tersebut muncul pada saat saya membaca sebuah paper dari Herman Dally, beliau menyinggung tentang sebuah konsep Resources Recovery, sehingga dari sana saya terfikir untuk mengganti Recovery tersebut menjadi Recoffeery.

Recoffeery sendiri merupakan sebuah inisiatif lokal yang dibentuk secara kolektif dan bergerak untuk pemanfaatan ampas kopi menjadi bernilai guna kembali (salah satu yang akan kami lakukan adalah menjadikannya sebagai pupuk organik yang nantinya akan kami distribusikan kepada petani-petani binaan kawan-kawan kami)

Tujuan kami sederhana, kami ingin berkolaborasi dengan para pemilik kedai kopi atau coffee shop untuk memanfaatkan ampas kopi dari kedainya masing-masing, kami juga ingin agar ampas kopi tidak terbuang dan berkontribusi terhadap timbulan sampah organik di Kota Bandung, kami juga ingin sama-sama sharing tentang pemanfaatan pupuk organik dari ampas kopi kepada para petani. Untuk hal-hal tersebut, tentunya kami sadar, serangkaian kegiatan yang harus kami lakukan beberapa diantaranya, yaitu berkeliling ke kedai-kedai kopi di bandung, untuk sharing tentang ide ini, kemudian menguji efektifitas pupuk dari ampas kopi terhadap pertumbuhan tanaman, dan tentunya minum kopi itu sendiri.

Diantara geliat pertumbuhan jumlah kedai kopi dan semakin pekat dan bermaknanya kebiasaan minum kopi bagi kita, kami ingin dari cangkir-cangkir tersebut hadir sebuah konsep sederhana tentang pemanfaatan kembali sumber daya secara berkelanjutan, inginnya seperti begini; “A Cup of Sustainability”

( Oh iya, ide ini sudah mulai diimplementasikan, dimulai dengan pemetaan lahan di kebun kopi milik seorang kawan, kemudian studi awal tentang timbulan ampas kopi pada beberapa kedai kopi di Bandung, sambil sedikit-sedikit mengkampanyekan ide ini kepada kawan-kawan. Untuk kawan-kawan yang ingin berkolaborasi terkait apapun itu, silahkan, tak usah ragu, mari bertegur sapa melalui surel kami di recoffeery.bdg@gmail.com )

Sudah ngopi ?

 

 

Saroo dan Jejak-jejak yang diingat

Lion movie scene 1

Rumah bagi saya bukan hanya perihal bangunan belaka, jauh daripada itu, ia menjelma menjadi perasaan yang saling mengisi dengan manusia yang meninggalinya, rumah dan manusia bertukar rindu setiap saat, memaknai ruangnya masing-masing, mengeja keberadaan untuk saling menjaga, tak jarang pula menjadi sebab kebosanan. Namun bagaimanapun, kerinduan yang dirasakan terhadap rumah selalu menjadi lebih terasa dibandingkan kebosanan itu sendiri. Dari hal tersebut, acapkali kita merasakan sebuah ketakutan, ketakutan tentang hilangnya keberadaan diri kita secara aktual di dalam rumah tersebut.

Ketakutan tersebut harus dialami oleh seorang anak (yang saat itu berusia 5 tahun) bernama Saroo. Ia dan rumahnya terpisah ribuan kilometer. Peristiwa itu ada dalam sebuah film yang digarap oleh Garth Davis berjudul Lion. Film ini diadaptasi dari sebuah buku berjudul “A long Way From Home” yang ditulis berdasarkan kenyataan yang pernah dialami oleh penulisnya sendiri, bernama Saroo Brierley.

Sebuah distrik bernama Khandwa, menjadi latar tempat utama dalam film ini, dimana tempat tersebut merupakan tempat tinggal Saroo, kakaknya yang bernama Guddu, ibunya dan adik bungsunya. Kesulitan masyarakat pada tahun 80-an di Khandwa mewarnai keseharian keluarga tersebut.

Sejak awal, film ini sudah memberikan suguhan yang manis, dimulai dengan seorang Saroo yang berdiri di sebuah lembah dan dikelilingi oleh kupu-kupu, kemudian hubungan yang akrab antara kakak dan adik yang mencuri batu bara di kereta api, untuk kemudian ditukar dengan susu murni yang akan ia bawa ke rumahnya, namun hal manis tersebut berubah menjadi sebuah kesedihan bagi mereka berdua. Saat suatu malam, kakak adik tersebut terpisah hanya karena Saroo yang tertidur di sebuah gerbong kereta yang membawanya ke sebuah tempat asing baginya. Sebuah stasiun dengan jarak seribu enam ratus kilometer dari timur Khandwa, tempat yang masih asing bagi anak 5 tahun, hingga menumbuhkan kekhawatiran lainnya.

Lion Movie Scene in Valley

Saroo dan suasana hening yang ia rasakan bersama gerombolan kupu-kupu.

Di stasiun tersebut, manusia tumpah ruah dengan kepentingannya masing-masing, (barangkali) sulit untuk memberikan perhatian kepada seorang anak yang nampak tersesat, keadaan yang menggambarkan mahalnya sebuah kepedulian.

Escaped in Train

 

Lion

 

Saroo kecil pun melewati berbagai macam rintangan yang tak jarang membuat debar-debar jantung menjadi semakin timbul. Rasakan saja saat visual kita disuguhi seorang anak kecil yang berlari-lari dari sebuah ancaman, lalu sama-sama merasakan kesedihan seorang anak yang terpisah jauh dari keluarganya dan tidak tahu saat ini ia berada dimana, kemudian menziarahi ingatan-ingatan saroo bersama kakaknya saat mencuri batu bara dan menukarkannya dengan satu kantong plastik susu murni, juga lembah-lembah tempat saroo dan kupu-kupu saling berinteraksi. Belum lagi pengaruh scoring dari seorang komposer “sialan” bernama Dustin O’ Halloran, yang sudah lama komposisi-komposisinya menemaniku di nyaris setiap malam yang memberi pengaruh dramatis terhadap beberapa scene di dalam film tersebut.

 

Saroo seeingFilm ini tidak hanya menceritakan tentang kehilangan, tetapi bagaimana seorang anak berusaha memunculkan kembali ingatan-ingatan terhadap sebuah rumah yang sudah ia tinggalkan selama nyaris dua puluh tahunan, dan juga mengingat jejak-jejak yang pernah ia lewati saat itu.

(Dalam tulisan ini masih banyak beragam hal yang cukup mengejutkan kita, sengaja tak semua saya catatkan di sini, mari memaknai sendiri)

Menilik ihwal Konsumerisme dalam film Confession of Shopaholic

Scene 1

Scene tersebut menjadi pembuka dalam film ini, metafora yang keluar dari ucapannya membandingkan perasaan ketika melihat sebuah store yang membuat perasaannya meleleh seperti bertemu dengan seseorang dengan senyumnya yang manis.

Ya, film yang dirilis pada tahun 2009 berjudul Confession of Shopaholic, merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel yang ditulis oleh Shopie Kinsella dengan judul yang sama. Film ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Rebecca Bloomwood, ia bekerja sebagai seorang wartawan, namun sebetulnya ia memiliki ketertarikan untuk bekerja pada sebuah majalah fashion bernama “Alette”

Yang menarik dari film ini yaitu, pekatnya wacana-wacana akan kegiatan konsumtif dan kuatnya relasi antara Rebecca Bloomwood dengan adiksinya terhadap belanja dan kartu kredit, dan tulisan ini akan mencoba meniliki beberapa scene yang berhubungan dengan Konsumerisme dan tanda-tanda yang ada dalam film tersebut.

Scene 4

Dalam scene selanjutnya, Rebecca memperoleh kesempatan untuk melakukan wawancara kerja di Kantor Alette, dan ia pun tak sengaja melihat sebuah selendang hijau pada sebuah toko, tentunya tak pikir panjang, Rebecca pun masuk dan mengagumi keindahan selendang hijau tersebut, namun, ia masih teringat tentang cicilan kartu kredit yang masih belum ia lunasi, ia pun nyaris membatalkan keinginannya untuk membeli selendang tersebut, namun tiba-tiba mannequin tersebut mengajaknya berdialog dengan menyisipkan argumen-argumen dimana sebuah selendang hijau tersebut akan berpengaruh terhadap penampilannya ketika wawancara, dan meningkatkan keanggunannya sebagai seorang perempuan.

Setelah sampai di kantor Alette, ternyata posisi yang diincar oleh Rebecca sudah terisi oleh orang lain, namun resepsionis pun memberitahu bahwa di majalah successful saving magazine, sedang dilakukan wawancara juga, dan Rebecca pun berfikir jika majalah tersebut bisa menjadi batu loncatan baginya untuk kemudian bergabung dengan majalah Alette. Nyatanya, Successful saving magazine dan Alette adalah dua majalah yang berbeda, Alette adalah majalah fashion, sedangkan Sucessful saving magazine merupakan majalah keuangan.

Nasib kurang beruntung tidak hanya sampai di situ saja, setelah wawancara selesai dilakukan, dan hasilnya kurang memuaskan, Rebecca kemudian kembali ke kantornya dan mendapati informasi bahwa kantor tempat ia bekerja saat ini bangkrut, alhasil ia tidak memiliki pekerjaan dan menanggung hutang tagihan kartu kredit sebesar $16.000

Yang membuat film ini semakin menarik adalah, konflik seorang Rebecca dengan gairah belanjanya. Ia tetap berbelanja meskipun $16.000 menunggu untuk dibayar, ia tetap tergiur akan diskon meskipun sehari-harinya ia ditagih seorang penagih hutang. Kondisi tersebut tentunya mengingatkan saya kepada seseorang bernama Jean Baurdrillard.

 

Mengingat Budaya Konsumsi dari sudut pandang Marx 

Sebelumnya, jauh-jauh hari, Eyang Marx sudah membicarakan perihal budaya konsumsi, beliau berujar bahwa budaya konsumsi tersebut dilatarbelakangi oleh munculnya masa kapitalisme, dimana sebuah produksi dijalankan dan dimiliki oleh pribadi. Tujuannya adalah untuk meraih keuntungan besar, dan tentunya konsekuensi logisnya adalah dengan lebih memperbanyak  produksi, untuk lebih memperbanyak produksi maka dibutuhkan lebih banyak pekerja untuk proses produksi tersebut. Tahapan selanjutnya, untuk memperoleh keuntungan, maka hasil produksi tersebut harus dijual dan dipasarkan kepada masyarakat sebagai sebuah Komoditas. Dalam buku Lechte yang bisa dibaca di sini Marx menjelaskan bahwa komoditas hanya memiliki dua aspek, yaitu use value dan exchange value. Nilai guna atau Use Value, tidak lain merupakan kegunaan suatu objek dalam pemenuhan kebutuhan tertentu, sedangkan Nilai tukar atau Exchange Value, merupakan nilai tukar yang terkait dengan nilai produk tersebut di pasar atau objek yang bersangkutan.

Saya memandang Marx memang menekankan pentingnya produksi dalam ekonomu, namun hanya memandang komoditas dan objek dalam kegiatan transaksi jual beli saja, dan memberikan gambaran bahwa masyarakat membeli komoditas tersebut berdasarkan nilai guna saja.

 

Masyarakat Konsumerisme dari sudut pandang Jean Baudrillard

Berbeda dengan Marx, Jean Baurdillard memandang bahwa masyarakat tidak hanya memiliki use value dan exchange value saja. Tetapi memiliki syombolic value dan sign value, singkatnya apa yang masyarakat konsumsi saat ini tidak hanya tergantung pada kegunaannya dan nilai tukar saja, tetapi lebih kepada nilai simbol dan nilai tanda yang bersifat abstrak dan terkadang tersembunyi.

Dan akhirnya, pemikiran Baudrillard pun bermuara kepada, kegiatan konsumsilah yang menjadi inti dari ekonomi, bukan lagi produksi seperti apa yang dikatakan oleh Marx.

Scene 6

Terlihat dalam Scene tersebut, sebuah pamflet bertuliskan “Sample Sale” yang terletak di tempel pada tembok sebelah kiri. Terlihat juga ada sekelompok perempuan yang terlihat antusias dengan posisi mulai berlari seperti mengejar sesuatu.

Jika kita menonton film tersebut, sekelompok perempuan tersebut mengejar komoditas yang dijual hasil designer kenamaan dengan diskon hingga 50-70%. Dalam kehidupan masyarakat, potongan harga atau Sale dapat memunculkan kebutuhan baru, kebutuhan yang palsu, dengan alasan barang yang dibeli jauh lebih murah.

 

Scene 3

pada akhirnya masyarkat bukanlah mengonsumsi kegunaan dan fungsi barang dan jasa itu sendiri, tetapi mengonsumsi citra atau status sosial yang melekat pada barang tersebut.

 

Masih dalam Bukunya Lechte, Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, dan tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi, manusia justru melakukan diferensiasi, yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi. Hal inilah yang rasanya terjadi pada masyarakat kita saat ini, diferensiasi tersebut menjadi sebuah nilai bagi masyarakat, bahwa masyarakat memandang lebih kepada tanda dan simbol yang melekat pada barang dan jasa itu sendiri, yang pada akhirnya masyarkat bukanlah mengonsumsi kegunaan dan fungsi barang dan jasa itu sendiri, tetapi mengonsumsi citra atau status sosial yang melekat pada barang tersebut, sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak pernah merasa puas dan akan memicu terjadinya konsumsi terus menerus.

 

Scene 2

“Masyarakat konsumeris adalah masyarakat yang menciptakan nilai-nilai yang berlimpah ruah melalui barang-barang konsumeris, serta menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan” – Yasraf Amir Piliang  

Ya, konsumsi yang terus menerus.

🙂

Empat Maret dan Dua Orang yang Menghargai Momen itu

Puji syukur. Ya, saya rasa kalimat itu yang paling tepat saya ucapkan setiap hari dalam keadaan apapun, terlebih dalam memaknai perasaan dan peran hidup saya yang baru; sebulan sudah peran saya menjadi seorang suami dari istri yang membuat saya bersyukur sepanjangnya hari ke hari.

Hari Sabtu sebulan yang lalu tentunya akan menjadi memoar bagi saya dan keluarga saya dalam mengingat apa yang sudah dilewatkan dengan berbagai macam perasaan dan do’a-do’a yang dipanjatkan. Hari Sabtu yang lalu merupakan jawaban atas segala kekhawatiran yang terlalu banyak dipikirkan pada bulan-bulan sebelumnya.

Setelah kami berdua (pernah) mengkhawatirkan musim , kami akhirnya dapat melewati hari-hari tersebut dengan penuh rasa syukur.

Hari tersebut adalah  Hari Sabtu pada sore hari di 4 Maret 2017

Sore hari itu terlihat “nanggung”, awan yang sedikit abu-abu namun masih ingin memancarkan kecerahannya, menjadi pandangan pertama saya saat memasuki sebuah lapangan bola yang sudah diubah fungsinya untuk menjadi tempat berlangsungnya acara syukuran pernikahan kami berdua. Angin-angin dan suaranya menimbulkan keheningan bagi saya yang sudah gugup sejak berbulan-bulan lalu. Rerumputan tampak khusyuk menyaksikan jejak-jejak langkah kaki saya yang sedikit gemetar. Berpasang-pasang mata menatap kearahku sekaligus kedua orangtuaku, saya tak banyak memperhatikan mereka, namun saya tahu, berbagai macam perasaan dan do’a-do’a dari mereka ikut hadir memenuhi lapangan bola itu.

CIL_7551

Lapangan bola yang tampak penuh dengan kayu, sedikit bunga dan lampu-lampu. Masih hening, sebelum dipenuhi orang-orang yang sibuk saling mendoakan.

Ada hal yang cukup membuat saya sedih sekali, terlepas dari semua rentetan acara dan segala macam yang sudah dipersiapkan oleh kami berdua dan dibantu oleh panitia kecil yang diisi oleh sahabat-sahabat kami, yaitu tentang bapak yang mengalami kecelakaan pada saat hari sebelum anak lelaki pertamanya menikah. Sedih, melihat bapak memaksakan diri untuk memakai beskap dan menahan sakit berjam-jam hanya dibantu oleh obat analgetik saja.

Hari sebelumnya, bapak bermaksud untuk mengunjungi rumah saudara saya untuk membicarakan terkait persiapan keberangkatan menuju lokasi pernikahan, rumah saudara saya terletak di pinggir jalan, persis di pinggir jalan raya, dan ada sebuah got yang sudah kering terletak di pinggir pintu gerbangnya, tanpa disadari oleh Bapak -mungkin juga karena kondisi gelap- beliau melangkahkan kakinya malah kedalam got tersebut, karena got tersebut cukup dalam, akhirnya bapak terjerembab masuk dengan posisi bahu sebelah kanan yang menyentuh tanah terlebih dahulu, barangkali itu yang menyebabkan bahunya sedikit bergeser dan tangan kanannya terkilir, beliau sempat diurut malamnya sebelum paginya harus pergi dari Sukabumi ke Bandung.

CIL_7601

Sebagain tampak tangan bapak saya yang dibalut. Ceritanya bapak mengalami kecelakaan sehari sebelum tanggal pernikahan saya. Tangannya terkiir, bahunya agak bergeser. Terharu dan sedih melihat bapak harus dibalut seperti itu

Dalam keharuan tersebut, bapak tetap menenangkan saya yang khawatir dengan melihat keadaan tersebut. Akhirnya saya tahu, dari bapaklah saya belajar tentang ketenangan dan menenangkan.

Pukul 4 kurang, rekan saya yang juga menjadi MC mulai mengeluarkan suaranya, sebagai tanda bahwa acara akan segera dimulai, yang menyebabkan jantung saya berdebar lebih cepat sekaligus membuat saya tampak gugup pun tegang.

Saya, bapak dan ibu (sebutan untuk orang tua saya), disambut oleh Mamah dan Ayah (sebutan untuk orang tua istri saya), melihat mamah dan ayah ada rasa haru menyelimuti saya, tampak jelas kedua orang tua istri saya menatap saya dengan senyuman hangatnya, saya pun melangkah dan prosesi mengalungkan bunga pun dilakukan oleh Mamah.

GIE_4953

Saya masih ingat perasaan itu, perasaan dimana saya kembali meminta restu dan ridho kepada orang tua Dhea, istri saya, agar segalanya di Ridhai-Nya pula.

Setelah bersalaman, kami sekeluarga menuju tempat duduk yang sudah disediakan, untuk kemudian melangsungkan prosesi akad nikah.

CIL_7657

Langkah kaki yang tak hanya melibatkan tenaga. Langkah kaki yang diisi oleh do’a-do’a, keridhoan dan anugerah dari-Nya.

Kamipun sampai dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Saya masih ingat, sempat memandang ke langit, memejamkan mata, merasakan angin, merasakan nafas dan detak jantung, menatap langit yang berubah sedikit keabuan gelap, tanda mendung, mulutku terus komat-kamit mengeja do’a dan kepasrahan.

GIE_5075

Prosesi Akad yang magis, kulihat keluarga-keluargaku tersenyum sambil menangis. Saat ini saya sudah resmi bisa dipanggil sebagai seorang suami.

Istri saya menunggu dengan debar pula, saya yakin, istri saya dapat mendengar suara saya saat mengucapkan ijab qabul, saya yakin hal itu yang betul-betul mendebarkan jantungnya, bukan lagu-lagu how deep is your love nya Bee Gees, ataupun Close To You nya Carpenter yang sering kunyanyikan dengan gitar untuknya. Puji syukur.

CIL_7832

Pertama kali kulihat bapak menangis. 

CIL_7858

Menyambut istri untuk mempersiapkan rumah tinggal yang paling surgawi. 

Momen menyambut istri saya kira dapat saya lewatkan dengan biasa saja, nyatanya tidak. Bahkan saya selalu diikuti rasa haru pada saat menatapnya, yang menyebabkan mata saya berkaca-kaca, akhirnya kami berdua sudah saling memiliki tempat pulang yang paling nyaman.

CIL_7886

Menghadiahkan istri sebuah surat, sebagai tanda bahwa seorang istri adalah pengejawantahan dari do’a-do’a, harapan, keikhlasan, dan keyakinan.

CIL_7899

Tanda lainnya.

Selesai mengaji, puji syukur, hujan pun hadir mengunjungi kami, seolah-olah menumpahkan kebarokahan yang dikirimkan oleh-Nya. Hujan yang sempat dikhawatirkan oleh kami pun ternyata hadir juga, namun setelah ia hadir, ternyata kami berdua tak mengeluhkan hal itu, hanya ucap syukur yang terus kupanjatkan.

GIE_5187

hujan yang sempat kami khawatirkan, ternyata adalah Simbol dari kebarokahan

Selepas hujan, kamipun berpindah menuju stage, stage ini memiiliki peneduh dan rencananya akan digunakan oleh rekan-rekan keroncong Rani Sinar untuk tampil pada malam harinya.

Ada cerita menarik dibalik pemilihan stage yang memiliki peneduh ini, awalnya saya berniat untuk tidak memberikan peneduh dalam bentuk apapun, karena saya dan istri saya cukup idealis dalam memilih bahan-bahan yang digunakan dalam dekorasi pernikahan. Namun, sahabat saya (sebagai salah satu dari vendor sound dan stage) bersikeras menyarankan saya agar memakai peneduh untuk menutup stage, dan yang paling penting, menutup agar perangkat sound tidak terkena hujan. Atas pertimbangan itu pula, kami berdua akhirnya setuju dan betul-betul berterima kasih atas saran sahabat saya tersebut. Hingga akhirnya, prosesi sungkeman kepada kedua orang tua kami pun tak terganggu oleh basah kuyup kehujanan.

CIL_7991

Sedang menunjukan buku tabungan. Untuk nabung tawa, nabung bahagia, nabung senang-senang, dan nabung rasa syukur

CIL_8081

“Sayangi Dhea juga kakak dan mamah ayah, seperti menyayangi ibu bapak dan adik-adik”. Singkat, sederhana namun penuh makna, sebuah kalimat yang bapak lontarkan kepada anak lelakinya yang akan menjadi seorang suami

CIL_8115

Istri saya pun ikut terharu

CIL_8027

Bertambahlah perempuan-perempuan yang menjadi sumber surgaku.

CIL_8020

Saya dan Ibu

Akhirnya, perasaan lega menyeruak kembali, ketenangan kembali hadir, selepas sungkeman, kami berdiri. MC memberikan pengarahan jika acara akad sudah selesai dan akhirnya, hujan pun ikut-ikutan selesai, cuaca kembali menjadi cerah, syukur pun kami kembali ucapkan. Kami akhirnya berganti pakaian untuk bersilaturahmi bersama kawan-kawan juga saudara-saudara,

Sabtu Malam, tepatnya selepas Maghrib

Resepsi dimulai pukul 19.00, kami sudah berganti pakaian sambil  saling bercerita tentang perasaan kami berdua saat akad tadi. Sahabat saya yang membantu kami mengorganisir acara ini, menyapa kami dan  memberitahukan bahwa resepsi akan dimulai.

Kami mulai bergegas untuk menuju kendaraan yang akan mengantarkan kami ke pintu masuk lapangan bola tersebut. Alhamdulillah, tampak ramai oleh saudara dan kawan-kawan kami, mereka memegang kembang api masing-masing, menyambut kami di sebuah gerbang yang kami rancang dari ranting dengan bantuan sahabat saya.

CIL_8285

Sahabat dan keluarga kami, menyambut dengan penuh tawa

 

GIE_5359

Berbagi kebahagiaan bersama sahabat-sahabat kami

 

malam itu terasa hangat, cuaca cerah, kembali kutatap langit, tak ada setitik hujan pun yang turun, dalam hati kemudian aku berbisik “Nuhun Gusti, Alhamdulillah”, sambil menggenggam tangan istriku, kami berjalan dan duduk di atas pelaminan, menyaksikan pemandangan yang indah, ditemani musik keroncong yang mengalun tanpa tergesa-gesa, menyebabkan malam itu indah dengan perlahan.

CIL_8363

Rekan-rekan keroncong bernama Ranisinar, membuat malam menjadi syahdu

GIE_5240

Lapangan bola yang kami gunakan untuk hal lain

CIL_8383

Hangat dan Ramai tanpa menyebabkan sesak

Sabtu malam pun, semakin berlalu, tak terasa dua jam pun terlewati, kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul 21.00 tanda bahwa acara silaturahmi akan segera usai, tak ada hujan kali ini, rasa kebahagiaan dan syukur kami tertinggal di tempat ini.

Kami berbahagia dan bersyukur bahwa tanggal 4 Maret akan selalu kami maknai sebagai sebuah momen membahagiakan bagi kami.

Acara ini hampir seluruhnya dipersiapkan oleh kami berdua, namun pada H-7 hari, kepedulian keluarga kami juga sahabat-sahabat kami yang membentuk panitia kecil, membuat kami sungguh terharu dan berterima kasih sekali kepada mereka. Juga para vendor yang sebagian besar adalah sahabat-sahabat kami juga, rasa-rasanya tuturan tentang “mau menikahmah pasti ada rejekinya” itu benar kami rasakan, yaitu rejeki keluarga besar yang meridhoi kami dan sahabat-sahabat yang membantu kami.

GIE_5668

Sahabat-sahabat yang membantu mengorganisir acara kami

Rasa-rasanya, momen ini akan kami kenang sebagai sebuah perenungan bahwa kita disatukan oleh sebab kebahagiaan.

Tautan Foto 

CIL_7549

Kids Corner, yang digagas oleh Istri saya, agar ruang-ruang bermain untuk anak tetap tersedia, bahkan dalam konsep pernikahan pun.

 

CIL_8226

Sahabat dan Keluarga yang menghangatkan 

CIL_8670

Gerimis turun dengan manis, menghiasai dekorasi yang kala itu sudah usai. 

CIL_8664

KAMI

Sekian

Tulisan ini diikutsertakan kedalam momen 1 Minggu 1 Cerita bertema; Respek

 

Sepasang Manusia yang mengkhawatirkan Musim

Dreaming Trees dari Pat Metheny mengalun di telingaku, sengaja kunaikan volume suaranya agar aku tak bisa mendengar suara hujan deras yang terdengar jelas dari depan kantorku. Dua bulan ini hujan sering datang tak tertebak, ia menyerupai kejutan, aku menemukan langit terik di siang hari, dan beberapa jam kemudian, langit berubah menjadi kelabu, seperti bersiap-siap menumpahkan hujan di atas kepalamu, menghanyutkan harapan perihal jemuran yang akan kering.

p_20161013_175817

Dalam dua bulan yang sering hujan ini, kami merencanakan sebuah syukuran sederhana, syukuran tentang sepasang manusia yang menjadi “Sah” untuk melakukan apapun berdua. Syukuran tersebut kami rencanakan untuk kami adakan di lapangan upacara sekaligus lapang sepakbola di sebuah detasemen di Kota Bandung. Kami sibuk dengan segala konsep dekorasi, layout outdoor, properti yang akan kami gunakan, termasuk tema pakaian, konsep musik yang akan kami isi dengan komposisi-komposisi keroncong dari Gesang dan Ismail Marzuki, dan banyak hal lainnya. Kami selalu tersenyum membayangkan keluarga dan rekan yang hadir menikmati acara syukuran kami, karena bagi kami berdua, acara pernikahan adalah medium yang cocok untuk kami intervensi dengan ide-ide yang kami miliki, dengan kata lain, acara pernikahan adalah salah satu hal yang dapat merepresentasikan idealisme kami berdua, tentunya dengan budget yang tak berlebihan pula. Kami bukan tak ingin menyelenggarakan resepsi di Disneyland, atau resepsi dengan mengundang Glenn Fredly juga Krisdayanti bahkan Nazar KDI ke pernikahan kami, bukan. Karena bagi kami, berkumpul bersama kawan dan keluarga di ruang terbuka sembari menikmati cemilan, kopi dan musik keroncong adalah kemewahan sederhana yang berujung syukur bagi kami.

Karena ruang terbuka memiliki arti terbuka kepada berbagai musim, kami akhirnya menjadi sedikit khawatir akan musim di bulan-bulan ini. Kami khawatir awal Minggu pada bulan Maret pun musim hujan belum beralih. Bulan-bulan ini pun, kami menjadi lebih banyak berbincang tentang musim dan menjadi was-was ketika langit menjadi kelabu. Selain musim, perbincangan kami pun mengarah kepada frekuensi do’a yang lebih sering kami tunaikan, dan juga nama-nama pawang hujan yang akan kami ajak, termasuk memikirkan alternatif lainnya.

Namun kami bukan membenci musim hujan sama sekali, karena kami yakin, hujan selalu menawarkan romantisme nya sendiri; ia bersanding dengan teh hangat, selimut, sepasang kekasih yang saling memeluk dalam dingin, anak-anak yang menawarkan ojeg payung dengan penuh senyum dan paradoks, para calon pemimpin yang menawarkan solusi mengatasi banjir, kota yang kehilangan daerah resapan air, pedagang bajigur dengan suara khasnya, aroma indomie kuah dengan cabe rawit, celana dalam yang tak kunjung kering. Semua itu adalah romantisme.

Dibalik romantisme nya sendiri, ternyata ia menawarkan kekhawatiran pula bagi kami, namun kami yakin akan kekuatan do’a……………………………………………………………………………………………………………………… dan bantuan pawang hujan.

Tapi tetap, kami mohon do’a juga agar kami bisa berbahagia mengadakan acara dengan cuaca.

Memaknai “Mimpi-Mimpi Einstein”

cangklong-dan-mimpi-mimpi-einstein

Pipa cangklong dalam foto ini adalah sebuah pengingat terhadap sosok Einstein, dan yang membuat saya yakin bahwa cangklong dapat membuat waktu menjadi lebih lambat

Saya sempat berfikir, bagaimana bila penanda “waktu” tak ada?

Mungkin pagi hari tak akan dijadikan alasan untuk bergegas bagi sebagian orang, mungkin ayam akan kebingungan kapan waktunya berkokok, mungkin kita tak akan pernah mengenal istilah sarapan, mungkin petani tak tahu kapan waktunya pergi ke sawah, mungkin sekolah akan hening dari bunyi-bunyi bel yang bersahutan, mungkin senja tak akan menemukan pengagumnya, mungkin pula Charil Anwar tak akan menulis puisi berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”, mungkin umur saya bisa dihitung dari jumlah kumis atau bulu dada yang tumbuh, entahlah, mungkin saja apabila “waktu” tak ada, kita pun nihil, karena saya sepakat dengan Heiddeger -dalam karyanya berjudul “Sein und Zeit” (Ada dan Waktu)- dimana seorang manusia yang memaknai waktu sehingga dia (waktu) ada dan waktu yang memaknai manusia sehingga dia (manusia) ada.

Kali ini, saya sangat bersyukur, pertanyaan tadi membawa saya kepada sebuah buku berjudul mimpi-mimpi Einstein yang ditulis oleh seorang Fisikawan bernama Alan Lightman sebagai buku pertamanya dalam kategori fiksi.

Terasa sekali konsep tentang waktu didekonstruksi oleh Alan, menjadi kumpulan mimpi-mimpi seorang Einstein di Kota Bern sejak 14 April 1905 hingga 28 Juni 1905. Mimpi-mimpi tersebut merepresentasikan sebuah dunia. Pada satu dunia, waktu diibaratkan sebagai sebuah lingkaran, sehingga semua kejadian dan peristiwa yang ada dalam dunia tersebut menjadi sebuah repetisi, dimana seseorang mungkin bisa saja mengalami kejadian yang sama berpuluh-puluh kali. Dunia yang lain menceritakan tentang waktu yang diibaratkan sebagai aliran sungai, sehingga apabila ada satu kejadian atau peristiwa yang merubah aliran tersebut, maka berubahlah semua kejadian lain di dunia itu. Kemudian, pada dunia yang lain, waktu berjalan menjadi lebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi, sehingga manusia-manusia yang tinggal di dunia tersebut pindah ke gunung-gunung agar mereka ingin lebih awet muda. Ada Dunia, dimana hubungan sebab-akibat menjadi tidak berlaku, yang membuat para ilmuwan menjadi putus asa dan ketidakpastian menjelma menjadi jiwa dari karya-karya seni.  Ada juga Dunia yang akan berakhir pada 26 September 1907, yang menyebabkan anak-anak menjadi gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya.

Dalam buku tersebut, terselip juga sebuah percakapan Einstein bersama kawannya yang bernama Besso, dalam sebuah percakapan pada halaman 38, Einstein berkata kepada Besso, “Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati Tuhan”. Percakapan yang membuat saya merinding, tentunya. Percakapan tersebut menjelaskan bahwa mimpi yang dialami Einstein dimaknai sebagai perjalanan tentang renungannya terhadap waktu dan membuat kita ikut terlarut merasakannya.

Saya ingin menyertakan beberapa penggalan mimpi dalam buku tersebut, seperti:

Orang-orang yang religius memandang waktu

sebagai bukti adanya Tuhan. Tak ada yang tercipta sempurna

tanpa adanya Sang Pencipta. Tak ada yang universal yang

tidak bersifat ketuhanan. Semua yang mudak adalah bagian

dari Yang Maha Mutlak. Di mana ada kemutlakan, di

situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf

menempatkan waktu sebagai pusat keyakinan mereka.

Waktu adalah pedoman untuk menilai semua tindakan.

Waktu adalah kejernihan untuk melihat salah atau benar. – Hal 24

Para filsuf telah menyatakan bahwa tanpa arah

menuju keteraturan, waktu kehilangan makna. Masa depan

tidak akan dapat dibedakan dari masa kini. Kepingan

peristiwa akan seperti satu petikan adegan dari ribuan

novel. Sejarah menjadi kabur, seperti pucuk pohon yang

diselimuti kabut malam. – Hal 49

 

 

 

ADA saru tempat di mana waktu berhenci. Butiran aIr

hujan bergelamungan kaku di udara. Bandul jam bergerak

separuh ayunan. Anjing-anjing mengangkat moncong

mereka dalam lolongan sunyi. Pejalan kaki membeku di

jalanan berdebu, seakan kaki mereka terjerat tali. Aroma

korma, mangga, ketumbar, dan rempah-rempah tertahan

di angkasa. – Hal 52

 

Begitulah, tempat di mana waktu berhenti, orangtua

tampak memeluk anak-anak mereka dengan pelukan abadi

yang tak akan pernah dibiarkan hilang. Seorang gadis belia

yang manis dengan mata biru dan rambut pirang tak henti hentinya

tersenyum, seperti saat ini. Tak akan pernah hilang

rona merah jambll dari pipinya, tak akan pernah kulitnya

berkerut atau kuyu, tak akan pernah terluka, tak akan

pernah ia melalaikan petuah orangtuanya, tak akan pernah

mengangan-angankan sesuatu yang tak dipahami oleh

orangtuanya, tak akan pernah mengenal kejahatan, tak akan

pernah berkata ia tak mencintai orangtuanya, tak akan

pernah meninggalkan kamarnya yang menghadap ke laut,

tak akan pernah berhenti membelai orangtuanya seperti

yang dilakukannya saat ini. – Hal 53

Narasi tersebut memberikan makna terhadap hubungan yang romantis antara Alan Lightman dan pikirannya.

Buku “Mimpi-mimpi Einstein” merupakan sebuah perjalanan imajiner ke berbagai belahan dunia yang memiliki maknanya masing-masing tentang waktu, dia merasakan bagaimana kebahagiaan dapat diabadikan dengan mengubah waktu menjadi beku dan berhenti, tak hanya itu, terasa sekali tulisan-tulisan tersebut mewakili rasa dalam perjalanan spiritual yang dia alami.

Mungkin untuk alasan itulah Tuhan menciptakan waktu, agar kita mengingat-Nya sepanjang waktu.

Tulisan ini dibuat pada saat hening, dimana waktu berhenti berdetik, ketika keheningan masuk kedalam pojokan kamar dan isi kepalaku.

Salam untuk

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

Memaafkan Nasib dan si Pencuri Sepeda milik Antonio Ricci

Saat ini, saya tiba-tiba teringat sesosok Antonio Ricci dalam film “The Bicycle Thief”. 

Film tahun 1948 dengan genre -yang disebut beberapa sumber sebagai- Neorealism ( http://faculty.wiu.edu/D-Banash/eng389/Fabe.pdf ) berhasil membuat frekuensi bernafas saya turun selama menonton film tersebut. Bagaimana tidak, film berdurasi kurang lebih 93 menit tersebut, berjalan dengan alur yang menarik kita kedalam situasi yang terjadi saat itu, situasi pasca perang dunia ke II, lalu kemudian menunjuk kita untuk -seolah- menjadi seorang kaum pekerja pada saat itu, untuk berkawan dengan sesosok Antonio Ricci.

Film tersebut menceritakan tentang lelaki bernama Antonio Ricci yang tinggal di Italia pada pasca perang dunia ke II, dimana dalam film tersebut menjelaskan keadaan Italia yang pada saat itu sedang miskin dan banyak pengangguran. Antonio Ricci termasuk kedalam kategori pengangguran tersebut, hingga suatu saat, dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan  sebagai penempel poster, namun syarat untuk mendapatkan pekerjaan tersebut adalah dia harus memiliki sepeda.

antonio-ricci-looking-jobsumber foto : https://goo.gl/52SXOy

Antonio kemudian pulang, untuk menemui istrinya yang bernama Maria dan anaknya yang bernama Bruno. Bersama istrinya, dia kemudian pergi untuk menjual semua seprai yang ada dirumahnya agar dia dapat membeli sepeda. Akhirnya dia dan istrinya pulang kembali dengan membawa sepeda tersebut.

Antonio pun mulai bekerja. Dia mulai menempelkan poster-poster pada setiap sudut perkotaan, dengan sepedanya, yang menjadi harapan satu-satunya untuk kehidupan keluarganya.

ladri_di_biciclette_-_immagine_sumber foto : https://goo.gl/3z87yd

Hingga suatu saat, pada saat hari pertama bekerja menempelkan poster di tempat lain, sepedanya pun dicuri.

antonio-lost-their-bicycle

sumber foto : https://goo.gl/9qIrNo

Antonio berusaha mengejar pencuri sepeda tersebut dan melaporkan pencuri tersebut kepada polisi, namun sikap polisi yang seolah tak peduli dengan permasalahan yang sedang dihadapi, membuat hal tersebut menjadi sia-sia saja. Kemudian dia meminta bantuan temannya untuk mencari di pasar loak, karena dia berfikir bahwa pencuri tersebut kemungkinan akan menjual sepedanya di pasar loak tersebut. Antonio, beberapa orang temannya ditambah anaknya yang bernama Bruno, ikut membantu  Antonio dalam mencari sepeda yang dicuri tersebut.

Apakah Antonio akan mendapatkan sepedanya kembali? Bagiku pertanyaan tersebut memang harus dijawab dengan menonton langsung filmnya.

Film tersebut, merupakan sebuah karya yang dramatis. Saya membayangkan seorang Antonio, seorang manusia yang berusaha bertahan hidup pada situasi pasca perang, seorang ayah yang menjual semua seprainya untuk membeli sepeda yang akan dijadikan sumber penghasilan, namun bukannya mendapatkan sumber penghasilan, melainkan penghasilan yang sudah diharapkan malah lenyap. Hal-hal dramatis lainnya yaitu, ketika polisi dan masyarakat sekitar tidak peduli terhadap masalah-masalah yang dihadapi Antonio. Namun saya tidak akan menceritakan semua hal-hal dramatis yang berhasil membuat perasaan saya berkecamuk itu terlalu banyak, saya ingin menyarankan agar film ini bisa ditonton dan dimaknai secara langsung.

Saya kembali ingat, dengan kata-kata yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar, perihal “nasib adalah kesunyian masing-masing”

Nasib yang dialami Antonio, menimbulkan kesunyian bagi dirinya sendiri, dia merasa terasing dengan sekelilingnya, terasing dengan harapannya sendiri, seolah harapan yang dia bangun adalah perihal kondisi yang menjadikan dirinya nihil, perihal meruntuhkan eksistensi dari angan-angan yang sudah sedemikian rupa dia bangun sejak dia mulai menjual semua seprainya.

Namun, ada satu scene dalam film tersebut, yang mengajarkan saya tentang bagaimana seorang Antonio dan Bruno memaafkan nasibnya tersebut.

Namun pertanyaannya, akankah kita dapat memaafkan segala hal yang terjadi, apabila sedang berada dalam posisi seperti yang Antonio Ricci alami pada film tersebut?

Mungkin saja bisa, sebab saya yakin, kedamaian itu salah satunya tersembunyi dalam hal maaf dan memaafkan.

Salam damai

 

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

Tulisan ini saya sertakan sebagai sebuah proses berkarya bersama kawan-kawan 1 Minggu 1 Cerita

Memaknai kedamaian dari secangkir “Kopi Es”

Langit Pekanbaru cukup teduh siang tadi, kulitku nyaris tak tersentuh panas matahari yang menyengat saat berjalan kaki menyusuri jalanan di Pekanbaru. Rasanya aku beruntung dan patut bersyukur, hawa panas informasi juga berita di televisi sama sekali tak mempengaruhi hawa dan cuaca di tempatku.

Langit-langit tak berwarna biru, banyak abu-abu yang mendominasi warna langit siang tadi, abu-abu yang cukup pekat. Kulayangkan pandangan ke segala sudut perkotaan pun begitu, orang-orang tak terlalu ramai, hanya kendaraan yang sibuk berlalu lalang saling menyusul, seolah jalan perkotaan adalah ruang kompetisi perihal “siapa yang paling cepat”.

Setiap kota selalu menawarkan ruang-ruang untuk kita nikmati dan maknai, termasuk juga kota ini, Kota Pekanbaru. Kota yang sedang kukunjungi selama kurang lebih empat hari karena amanat pekerjaan. Siang tadi cukup luang, sehingga aku bisa berjalan kaki mengunjungi pasar, perpustakaan, dan satu hal yang selalu membuatku tertarik adalah warung kopi.

Kopi memang selalu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Sebagai sebuah ruang di tengah tumbuhnya kota, ia (warung kopi) ikut hadir dalam membangun ruang-ruang publik dan memfasilitasi terjadinya transaki ide, karya dan tumbuhnya komunitas-komunitas. Sebagai sebuah produk, kopi berkawan dengan individu yang menyajikan beragam metode pasca panen, roasting, brewing, beragam roasted beans dari berbagai macam daerah dan lainnya, selain dilihat sebagai sebuah produk, kopi Juga berkawan dengan individu-individu penikmat kopi, penyeduh kopi itu sendiri, hingga lahirnya gagasan kolektif terkait kopi itu sendiri, seperti @bandungngopi misalnya.

Di luar hal itu, kopi pun kembali diterjemahkan sebagai simbol-simbol dalam beberapa karya tulisan, seperti apa yang pernah dituliskan oleh Seno Gumira Ajidarma -dalam sebuah buku kumpulan essai beliau berjudul “Tiada Ojek di Paris”, pada halaman 67- dalam essai yang berjudul “kopi”, beliau menuliskan “Kopi bukan hanya caffeine, kopi telah menjadi makna”. Dalam bukunya beliau (lagi), yang berjudul “Jazz, parfum dan insiden”, ia menuliskan kalimat seperti ini;

“Setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama….
Aku selalu membayangkan ada sebuah Negeri Senja, dimana langit selalu merah keemas-emasan dan setiap orang di negeri itu lalu lalang dalam siluet.
Dalam bayanganku Negeri Senja itu tak pernah mengalami malam, tak pernah mengalami pagi dan tak pernah mengalami siang.
Senja adalah abadi di Negeri Senja, matahari selalu dalam keadaan merah membara dan siap terbenam tapi tak pernah terbenam, sehingga seluruh dinding gedung, tembok gang, dan kaca-kaca jendela berkilat selalu kemerah-merahan.
Orang-orang bisa terus-menerus berada di pantai selama-lamanya, dan orang-orang bisa terus-menerus minum kopi sambil memandang langit semburat yang keemas-emasan. Kebahagiaan terus-menerus bertebaran di Negeri Senja seolah-olah tidak akan pernah berubah lagi….” – Seno Gumira Ajidarma, Jazz, Parfum dan Insiden

Selain Mas Seno, sebait sajak dari Pak Sapardi Djoko Darmono, berjudul “Secangkir Kopi”, ikutan memberi makna bagi hadirnya kopi dalam setiap rutinitas kita, begini sajaknya:

“secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kauminum itu, tidak pernah mengusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau hirup ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada secangkir kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi”

Kopi ternyata tidak hanya dilihat sebagai sebuah produk saja, lebih dari itu, kopi telah mengisi ruang-ruang pribadiku sendiri dalam menerjemahkan dan memaknai segala sesuatu hal yang berkaitan dengan kopi itu sendiri.

Termasuk di Kota ini, Kota Pekanbaru.

img-20170131-wa00281

p_20170131_1512391

 

 

Kakiku melangkah ke sebuah sudut jalan, disana tampak lampion-lampion tergantung dengan cantik, menghiasi langit yang abu-abu, kulangkahkan kaki sambil sesekali melihat kiri kanan, banyak toko yang tutup, kemudian tak jauh dari pemandangan tersebut, berdiri megah sebuah vihara, seperti sebuah oase yang mewarnai langit agar tak selalu abu-abu. Persis di depan vihara tersebut, terpampang sebuah penanda yang terbuat dari kayu dan diberi cat putih, dengan tulisan berwarna merah, terbaca dengan jelas; “kedai kopi Laris”.

img-20170131-wa00301

Bangunan tersebut sederhana sekali, tak ada kaca yang luas yang menyambut kita seperti di starbucks, tak ada ornamen-ornamen yang tampak “instagramable”, tak ada penanda di tempat tersebut ada wifi atau tidak. Tempat itu sungguh sangat menggodaku untuk masuk kedalam, untuk duduk, dan membebaskan pikiran dari segala bahasan dan tafsiran tentang kopi itu sendiri, hanya memesan kopi dan duduk menikmatinya.

Kemudian aku masuk.

Seorang perempuan berusia (sekitar) 60-an, menyapaku, “pesan apa kak?”, tanpa banyak berfikir panjang, aku langsung memesan kopi es saja, untuk kemudian segera duduk. Perempuan tersebut, kembali lagi menanyakan, apakah aku mau memesan roti bakar juga atau tidak, dan tanpa berfikir panjang, aku pun mengiyakan pernyataan tersebut, bahwa aku ingin memesan roti bakar juga.

Sekitar 15 menit kemudian, datanglah secangkir kopi es dihadapanku, dihantarkan oleh seorang perempuan yang lagi-lagi berusia (sekitar) 60-an, hanya bedanya perepuan ini memakai kerudung. kemudian tak menunggu lama lagi, segera kucium aroma kopi tersebut, kemudian kuminum kopinya, dan jangan tanya bagaimana karakteristik kopi tersebut, hingga muncul pertanyaan bagaimana acidity, body, atau after-taste­nya, tidak-tidak, aku tidak memiliki keahlian untuk menyebutkan hal itu dengan cukup akurat, yang aku tahu dan aku rasakan, “kopi es” tersebut terasa damai, tenteram, dan sejuk, membuat diriku ingin sekali bersyukur karena hadirnya kopi es tersebut, dan membuat diriku ingin menyampaikan suatu hal, bahwa terkadang kedamaian itu sangat dekat dengan kita, hanya masalahnya adalah, kita mau memaknai hadirnya kedamaian itu atau tidak.

img-20170131-wa00261

Kedamaian ternyata hadir sesederhana itu.

Tulisan ini hadir untuk proses berkarya bersama 1 Minggu 1 Cerita

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

Merespon Ruang; Memoar

35mm8

 

 

 

 

35mm10

Keberadaan ruang dimanapun memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk memaknai, merenungi atau meresapi. Ruang disini kusadari keberadaannya sebagai pemberi ingatan terhadap kenangan masa kecil yang damai. Masa kecil di kota kelahiran. Kota, tempatku menghabiskan senja dengan bermain layang-layang, kemudian berjalan menyusuri sungai sepulang sekolah.

Setiap kota tentunya memiliki sebuah identitas yang tak terbatas pada elemen-elemen fisik saja, lebih daripada itu, kota memberikan fragmen-fragmen yang menjelma menjadi memoar terhadap manusia yang mengisinya.

Melalui sebuah kamera plastik bermerk Fujica M1 dan roll film hitam putih merk Lucky yang sengaja dicetak sephia, aku coba menangkap memoar tersebut secara sederhana.

Foto-foto ini diambil pada tahun 2009, ketika itu aku sibuk bekerja dan tinggal di luar Kota, sehingga ketika itu terbilang cukup jarang untuk pulang, sekalipun pulang, rumah menjadi tempat ternyaman di bumi ini hingga tak ada waktu untuk sekedar berjalan kaki menyusuri pasar loak atau stasiun. Satu ketika di hari kerja, aku bolos bekerja, aku mengajak seorang sahabatku yang sedang bolos dari kuliahnya di Jakarta  untuk berjalan kaki mengunjungi stasiun, bangunan-bangunan di belakang pasar pelita, kapitol sukabumi, dan gereja sidang kristus.

 

35mm-1

Ketika kami berseragam putih merah, kami selalu menyusuri rel dari Stasiun Sukabumi, untuk sekedar berjalan-jalan yang tak tau arah tujuan. Ketika kami beranjak remaja, kami memiliki cara sendiri untuk menikmati hari, yaitu berjalan kaki di tengah malam berkeliling di pasar dan stasiun sambil singgah di warung kopi dan bandros kemudian berbincang tentang apapun hingga subuh tiba. Namun, pada pagi hari di tahun 2009, ketika kami bolos kerja dan kuliah, kami mencoba bernostalgia dengan rutinitas tersebut, kami berjalan menyusui rel kereta api tempat dimana ingatan-ingatan masa kecil dan remaja berada disana, tak ada hal yang kami bicarakan, hingga satu waktu, dia kupanggil, dia menoleh, dan aku segera memotretnya.

 

 

35mm13

Ruang-ruang sederhana, seperti rel, jalan berkerikil, dan stasiun menjelma menjadi sebuah kemewahan akan pemaknaan terhadap bagaimana kami menikmati hari-hari yang berjalan dengan pelan, seirama dengan langkah kaki kami, tidak tergesa-gesa, dan damai.

Sebuah foto yang merepresentasikan kerinduan terhadap Kota Sukabumi yang (saat itu) lengang.

 

 

 

 

 

 

 

35mm9

Aku khawatir, saat ini atau kedepannya, ruang-ruang tempat kami ‘berziarah’ ingatan akan hilang, oleh kecamuk pembangunan kota yang –entah secara sengaja atau tidak- mengaburkan identitas kota itu sendiri.

Muncul pertanyaan dalam benak, apakah kota yang bergelar sebagai kota yang layak huni telah adil memberikan ‘kelayakannya’ terhadap seluruh lapisan masyarakat yang berada di setiap ruang-ruang perkotaan?

Atau jangan-jangan gelar layak huni tadi telah diprivatisasi oleh beberapa individu sebagai investor dan pemilik modal?

Lantas, ditujukan kepada siapakan sebetulnya kota yang layak huni tersebut?

 

35mm5

 

 

 

 

35mm2

 

Bangunan yang kulihat setiap hari, ketika berangkat atau pulang dari sekolah, tampak polos. Bangunan tersebut selalu mengundang pertanyaan bagiku ketika itu, sehingga aku cukup sering bertanya kepada bapak, “Pak, Capitol itu dulunya bangunan apa?”

Barangkali pertanyaan yang aku lontarkan ketika itu merupakan respon terhadap nilai historis yang terkandung dalam bangunan tersebut.

Saat ini bangunan tersebut masih ada, hanya sayang, dia telah berubah menjadi media promosi komersil, tidak salah… Mungkin

 

35mm12

 

Aku suka melihat gereja tersebut, karena lokasinya tidak begitu jauh dari sebuah mesjid yang dinamakan Mesjid Agung, seperti melambangkan kedamaian yang muncul dari sebuah perbedaan. Barangkali kita bisa belajar dari bangunan tersebut. Belajar, bahwa kedamaian itu berdekatan, tidak dijauh-jauhkan.

 

 

 

 

 

 

 

35mm7

Tak terasa, siang pun tiba, kami mengakhiri perjalanan dengan duduk di atas rel kereta sambil memandang bangunan-bangunan yang berada persis di depan kami. Sama seperti tadi, tak ada dialog yang kami keluarkan, hanya keringat dan hembusan nafas yang lebih cepat tampak seperti bercakap-cakap dengan diri kami masing-masing sebagai hasil dari berziarah ingatan ke tempat-tempat yang sederhana namun berarti, setidaknya bagi kami sampai saat ini.

Berbicara saat ini, Kota ku telah tumbuh berkembang, kini ruko-ruko lebih banyak menghiasi wajah kota, tampak “menor”

Mendaftar untuk Menjadi Seorang Nahkoda

Sewaktu memakai seragam putih merah, saya pernah bercita-cita menjadi seorang nahkoda, itupun gara-gara seorang guru yang sedang menjelaskan beberapa profesi, salah satunya yang guruku sebutkan adalah nahkoda. Guruku menyebutkan bahwa nahkoda adalah pemimpin sebuah kapal, ia berlayar mengarungi lautan, menerjang ombak, kapalnya besar, juga orang yang sangat tangguh. Begitu kira-kira ketika guruku menggambarkan seorang nahkoda kepada murid-murid kelasnya, dimana disana saya berada sambil melamun, membawa kapal besar, yang diikuti lumba-lumba yang melompat girang. Cita-cita tersebut tak pernah kuingat lagi hingga seragam putih merah tak lagi kukenakan.

Ingatan tersebut kembali muncul saat ini, disela-sela persiapan menuju pernikahan yang sedang saya rancang bersama seseorang yang sering kuanalogikan sebagai pengejawantahan do’a.

Ingatan untuk menjadi seorang nahkoda kembali hadir, hanya kali ini ia sedikit berbeda. Sederhana, hanya berbeda dalam menganalogikannya.

Kali ini, kapal yang akan kubawa adalah seorang istri, kelak bertambah seorang atau bahkan beberapa anak, sebuah keluarga dan segala unsur yang menyertainya. Kapal yang akan kami gunakan, haruslah nyaman, penuh dengan makanan kesukaan, beberapa pemutar musik untuk kami nyanyikan bersama di tengah laut, dan bertumpuk-tumpuk buku agar kami dapat menyelami berbagai keindahan ilmu.

Laut merupakan ruang tempat kami mengarungi hidup yang terkadang mengajarkan kami untuk harus berani melawan badai, ombak besar, cuaca buruk, kecamuk arus yang deras, bahkan memperbaiki bagian kapal yang rusak. Namun, tidak hanya itu, saya meyakini, bahwa laut memberikan sebuah keindahan yang dapat menjadi alasan kami untuk bersyukur tanpa batas, bahwa kami akan menikmati indahnya lautan yang tenang dan desir angin yang halus juga suara ombak yang merdu, menepi untuk berkemah di pulau yang indah, menikmati senja dari tengah laut, memancing ikan, berenang dan menyelam untuk menikmati segala keindahan bawah laut, mengajari anak-anak kami agar tak takut air, dan hal-hal lain yang membahagiakan.

Arah, adalah perihal “kiblat” hidup yang harus selalu saya pelajari terus menerus, hingga memahami secara penuh dan dipegang erat berdasarkan apapun yang menjadi dasar imanku. Saya harus membimbing para penghuni kapal agar sama-sama membaca dan memaknai arah, sehingga kami dapat membangun kerja sama dalam menguatkan dan mempertajam arah hidup kami.

Saat ini, nyatanya, ingatan itu tidak hanya hadir sebagai pengingat, namun menjelma niat, bahwa beberapa waktu kedepan, sebagai seorang lelaki, saya akan mendaftar menjadi seorang nahkoda, untuk pergi melaut bersamamu. Inshaa Allah, akan kupersiapkan matang diri ini, agar kelak, yang akan kita dengar di tengah laut adalah hanya suara ombak, karena tak akan kubiarkan suara tangismu dan bentakanku muncul melebihi suara ombak tersebut.

Inshaa Allah, Aamiin.